Bab 1: Perang di Padang Hijau

Padang hijau, pos terdepan kerajaan Fastocia, hari keempat bulan Aeron tahun 1857 kalender pembaharuan Dewa-Dewi.

Semalam hujan salju mengguyur padang tersebut. Di seluruh penjuru padang hijau, terhampar luas tumpukan salju. Tumpukan salju tersebut seakan-akan mengubah warna Padang Hijau menjadi putih. Matahari musim dingin masih malu-malu untuk mengintip karena tebalnya awan dan kabut di pagi hari.

Kamp-kamp dan tenda-tenda Pasukan Fastocia telah didirikan sejak lima hari yang lalu di bagian selatan Padang Hijau di dekat Benteng Hijau. Alat-alat berat seperti Pelontar Batu dan Menara Pemanah telah dipasang sehingga siap untuk digunakan kapanpun jika perang terjadi.

Mata-mata pasukan Fastocia melaporkan bahwa pasukan Orc telah menyebrangi sungai Grat yang memisahkan hutan Grat Utara dan Selatan dua hari yang lalu. Cepat atau lambat mereka akan segera tiba di batas selatan hutan Grat.

Para Jenderal dan Penasihat perang Fastocia telah memikirkan strategi untuk membendung serangan Orc tersebut. Jika Orc datang menyerang, mereka terlebih dahulu dihujani oleh anak panah serta batu yang dilontarkan alat pelontar batu. Jika posisi mereka semakin dekat, seluruh pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh raja akan menyerang mereka, menciptakan sebuah serangan kejut yang biasa disebut dengan serangan Cataphract. Lalu seluruh pasukan Infantri akan ikut menyerang dan akhirnya pertempuran besar tidak akan terhindari lagi. Strategi tersebut telah digunakan beratus-ratus tahun dalam berbagai pertempuran.

Suasana di pagi hari yang tidak cerah tersebut cukup riuh. Beberapa prajurit telah terbangun dari tidurnya yang kurang nyenyak akibat badai semalam. Mereka saling menyapa satu dengan yang lainnya lalu menyantap sarapan yang telah dibuat oleh koki pasukan. Tanpa menghiraukan rasa dingin yang membeku, mereka saling bercanda dan tertawa satu sama lain, seakan-akan mereka sedang tidak dalam kondisi akan berperang.

Beberapa saat kemudian, suasana riuh di pagi hari tersebut seakan pecah oleh suara sangkala yang ditiupkan oleh para peniup sangkala. Para prajurit sadar, inilah saatnya mereka berperang. Mereka langsung mengambil baju zirah mereka dan bergegas untuk berbaris sesuai dengan barisan mereka masing-masing.

Di tengah keriuhan akibat bunyi suara sangkala tersebut, 2 orang ksatria berjalan menyusuri barisan tenda-tenda prajurit Fastocia. Walau tinggi badan mereka sedikit berbeda, namun wajah mereka tampak mirip satu sama lain; bentuk wajah mereka sama dan bola mata mereka juga sama-sama berwarna biru. Hanya warna rambut mereka saja yang berbeda, yang lebih tinggi memiliki rambut berwarna cokelat sedangkan yang satunya berwarna pirang emas. Tampaknya mereka berdua memiliki hubungan saudara. 2 Ksatria tersebut mengenakan mantel putih dan baju zirah lengkap. Dari emblem yang berwujud sebuah perisai dengan gambar naga putih yang ada di baju zirah mereka, tampaknya mereka adalah ksatria dari klan Guinglaint, salah satu klan yang dikenal paling banyak berjasa dalam sejarah kerajaan Fastocia. Tak lama kemudian, Kedua ksatria tersebut berhenti di depan sebuah tenda berwarna biru yang memiliki jahitan emblem yang sama dengan emblem di baju zirah mereka.

"Kau masuklah, bangunkan dia, aku menunggu di luar saja" Ujar ksatria yang lebih jangkung disertai anggukan ksatria satunya.

Di dalam tenda tersebut, terdapat seorang pemuda yang tampaknya masih tertidur lelap di atas tempat tidurnya. Ia juga berparas sama dengan kedua ksatria tersebut, dan rambutnya yang panjang sebahu dan dibiarkan terurai juga berwarna cokelat. Ksatria yang diminta masuk tersebut segera berjalan ke arah pemuda tersebut.

"Hey, Chad, bangun!" Ujar ksatria tersebut.
"Uhh, sebentar lagi bu." Ujar pemuda yang dipanggil Chad tersebut.
"Hey, dasar tukang tidur, cepat bangun! Orc telah datang dan membakar seluruh kemah Fastocia!" Teriak ksatria tersebut.

Chad langsung terbangun dan mendapati saudaranya, Jeff tertawa cekikikan di sampingnya.

"Uh ada apa, aku masih mengantuk sekarang." Ujar Chad sambil menguap.
"Ah, dasar tukang tidur, tidakkah kau mendengar suara sangkala tadi? Orc akan segera datang!" Ujar Jeff.
"Benarkah?" Tanya Chad sambil mengikat rambutnya yang terurai
"Yaya, sekarang cepat bersiaplah dan pakai baju zirahmu." Lanjut Jeff, "Aku dan Brad menunggumu di luar tenda."

Chad bergegas bangun untuk menyiapkan diri. Ia membasuh mukanya dengan air dingin lalu memakai baju zirahnya yang tersimpan rapi di samping tempat tidurnya. Tak lama kemudian setelah selesai memakai baju zirahnya, ia mengambil pedang, perisai dan helm perangnya dan bergegas untuk keluar dari tenda dan menemui kedua saudaranya. Ia cukup bersemangat karena hari ini adalah pertempuran pertamanya sejak ia ditahbiskan sebagai ksatria pada umur 18 tahun.

Chad menemui kedua saudaranya di luar tenda. Ia sedikit menggigil kedinginan karena cuaca yang cukup dingin.

"Kau siap tukang tidur?" Tanya Brad
"Yaya, aku sudah siap." Ujar Chad seraya mengenakan mantelnya.
"Mungkin kau belum cukup tidur eh? Bagaimana kalau kau tidur lagi?" Canda Jeff "Kami takut nanti dirimu menjadi bulan-bulanan para Orc karena tertidur di medan perang."
Jeff tertawa dibarengi Brad, Chad langsung memotong tawa mereka, "Ah, aku sudah cukup tidur, kecuali jika para Orc tidak jadi datang karena mereka juga kurang tidur, mungkin aku akan tidur menemani mereka?"
Jeff dan Brad kembali tertawa lebih keras.
"Sudah, sudah, ayo kita segera menuju barisan depan untuk mendengarkan pidato dari raja." Ujar Brad.
"Ok" Sahut Jeff dan Chad bersamaan. Mereka bertiga lalu berjalan menyusuri tenda-tenda yang sudah sepi untuk ke barisan depan tempat dimana seluruh pasukan berkumpul.

"Ngomong-ngomong, mana saudara-saudara kita yang lain?" Tanya Chad.
"Glen berada di barisan pasukan berkuda bersama ayah dan ksatria berkuda lainnya." Lanjut Brad, "Sementara Orvhanav dan Thorvhinav berada di barisan pemanah, mereka berdua tentu saja akan ikut naik ke atas menara pemanah untuk menyerang Orc dari atas."
"Sekarang mungkin satu-satunya yang mereka khawatirkan adalah dirimu. Itu sebabnya kami berdua diminta untuk menjagamu." Canda Jeff.
"Hey, aku telah mendapatkan tahbisan ksatriaku, setidaknya aku sudah berhak untuk mengikuti sebuah pertempuran." Bela Chad "Kau juga belum pernah mengikuti sebuah pertempuran sama sekali, Jeff."
"Ah, sudah-sudah, jangan bahas itu lagi." Lanjut Brad menengahi. "Kita harus cepat, kalau tidak kita akan mendapat hukuman dari ayah gara-gara kau yang telat bangun"

Ketiga bersaudara tersebut lebih mempercepat langkah mereka untuk sampai ke tempat para pasukan berbaris. Mereka tidak ingin ketinggalan pidato raja Gustave XII yang dikenal berkharisma tinggi tersebut.

Chad atau Chadolice Guinglaint, adalah seorang ksatria termuda dari klan Guinglaint. Ayahnya adalah Richard Guinglaint, seorang ksatria veteran yang telah ambil andil dalam berbagai pertempuran. Richard Guinglaint juga menjadi pemimpin Orde of Knights, perkumpulan klan ksatria baik dari kerajaan Fastocia maupun dari kerajaan Beogard.

Richard Guinglaint memiliki 4 putra dan 2 putri yang semuanya menjadi ksatria seperti ayah mereka.

Putra tertua adalah Glen Guinglaint. Ia berumur 38 tahun dan juga ikut ambil andil dalam beberapa pertempuran bersama ayahnya. Ia didukung sebagai calon pemimpin Orde of Knights jika ayahnya telah tiada.

Orvhanav dan Thorvinav adalah putri kembar dari Richard. Mereka berdua berumur 29 tahun dan dikenal sebagai ahli panah. Mereka berdua dijuluki sebagai "Mawar Berduri" karena kecantikan dan ketepatan mereka dalam membidik musuh.

Bradon Guinglaint adalah putra keempat Richard. Ia berumur 25 tahun dan baru mengikuti 1 pertempuran di Beogard. Ia masih muda dan sangat ahli dalam memakai tombak.

Jefftaint Guinglaint putra kelima Richard. Ia masih berumur 21 tahun dan pertempuran kali ini adalah pertempuran pertamanya. Ia dekat dengan Chadolice karena umur mereka yang tidak jauh berbeda.

Chadolice Guinglaint adalah putra termuda Richard. Ia berumur 20 tahun dan sama seperti Jeff, pertempuran kali ini juga pertempuran pertamanya.

Klan ksatria Guinglaint, dikenal sebagai klan ksatria yang pemberani. Selama 500 tahun para ksatria Guinglaint telah ikut ambil bagian dalam sejarah kerajaan Fastocia. Mulai dari leluhur pertama mereka, Sir Edward Guinglaint yang datang dari utara dan mengabdi kepada raja Gustave I. Sir Edward Guinglaint ikut membantu mendirikan kerajaan Fastocia, setelah jatuhnya kerajaan Gardan yang kekuasaannya mencakup setengah dari seluruh wilayah Terra-Fonthea yang luas. Kerajaan Fastocia sendiri mendapat bantuan dari bangsa Elves dari hutan Loraint untuk memisahkan diri dari kekuasaan raja Fillast XXXIII yang tiran.

Seluruh pasukan Fastocia telah berbaris dengan rapi di garis depan sesuai dengan barisan mereka masing-masing. Mereka semua siap untuk berperang melawan Orc walaupun cuaca hari ini cukup dingin. Mereka semua saling mengobrol tentang perang kali ini sehingga suasana menjadi ramai.

Suasana ramai tiba-tiba menjadi hening ketika raja Gustave XII naik keatas podium. Raja tersebut hampir berumur 60 tahun dan wajahnya telah berkeriput karena dimakan usia. Namun semangat perangnya seakan tidak pernah padam. Ia selalu memimpin sendiri pasukannya karena ia yakin semangat pasukan akan terbakar jika melihat raja mereka maju paling depan dalam pertempuran. Raja tua tersebut memandang satu-persatu wajah prajuritnya, memastikan tidak ada ketakutan dalam wajah mereka untuk berperang hari ini. Ia bergumam sebentar lalu memulai pidatonya.

"Seluruh prajuritku yang gagah berani." Ujar raja Gustave dengan penuh wibawa, "Hari ini kita akan menghadapi sebuah takdir. Takdir yang akan menentukan nasib kerajaan kita, takdir yang akan menentukan nasib orang tua kita, istri, anak, saudara, teman dan seluruh rakyat Fastocia yang kita kasihi!" Raja Gustave berhenti sejenak untuk melihat reaksi pasukannya.
"Sekarang, lihatlah kearah hutan tersebut!" Lanjut raja Gustave seraya menunjuk hutan Grat dengan pedangnya, "Disana, ribuan Orc telah menunggu untuk berperang! Mereka menunggu untuk membantai kita! Lalu apa yang harus kita takutkan? Jika mereka menginginkan sebuah perang, kita akan memberikan mereka perang yang dahsyat! Hancurkan mereka wahai prajuritku!" Seru raja Gustave yang diikuti oleh seluruh prajuritnya, suasana padang hijau menjadi riuh oleh suara teriakan-teriakan perang.

Tak lama kemudian, dari arah hutan Grat terdengar suara riuh teriakan perang pasukan Orc. Suara dari dalam hutan Grat tersebut saling bersahutan dengan suara pasukan Fastocia di padang hijau, seakan-akan mereka saling mengejek dan siap untuk bertempur.

Tak lama kemudian, ribuan Orc keluar dari hutan Grat. Mereka berlarian kearah pasukan Fastocia seraya berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senjata mereka. Tanah di padang hijau seakan bergetar oleh suara langkah kaki mereka yang berat.

Raja Gustave segera memerintahkan para peniup sangkala, penabuh drum dan pembawa bendera untuk menginstruksikan pasukan pemanah menyiapkan busur dan anak panahnya. Sangkala ditiup dan drum ditabuh beriringan, bendera bergambar seekor naga terbang yang menyemburkan api dikibarkan oleh para pembawa bendera. Seluruh pemanah mulai menarik busurnya dan mengarahkannya membentuk sudut 45 derajat ke atas. Raja mengangkat pedangnya keatas dan tak lama kemudian ia mengayunkannya seraya berseru, "Tembak!"

Ribuan anak panah berterbangan ke udara. Dalam hitungan detik ribuan anak panah tersebut melesat ke tanah dan menghujam ke tubuh sebagian besar Orc tersebut. Para Orc yang terkena anak panah tumbang, namun sebagian besar dari mereka kembali berdiri. Tentu saja beberapa anak panah yang menancap di tubuh mereka tidak akan menghentikan nafsu mereka untuk membantai pasukan Fastocia.

Ribuan anak panah kembali berterbangan dan kali ini diikuti oleh batu-batu yang dilontarkan pelontar batu. Anak panah tersebut kembali menghujam ke tubuh sebagian Orc dan batu-batu besar juga menimpa mereka. Namun mereka kembali berdiri dan menjadi lebih bernafsu untuk membantai prajurit Fastocia yang sekarang hampir dekat di depan mereka. Hanya beberapa Orc saja yang sekarat atau tewas akibat terlalu banyak anak panah yang menancap ke tubuh mereka atau karena tertimpa batu.

Kedudukan Orc semakin dekat, raja Gustave telah menaiki kudanya. Ia kembali mengangkat pedangnya keatas dan diikuti oleh seluruh pasukan berkuda. Ia berteriak keras, "Demi Fastocia!" lalu ia memacu kudanya ke arah pasukan Orc bersama seluruh pasukan berkudanya sementara para pasukan pemanah menaiki menara pemanah untuk menyerang Orc dari atas. Raja Gustave bukannya nekat untuk maju paling depan menyerang Orc. Ia tentu saja dilindungi oleh beberapa pengawal elitnya yang memang bertugas untuk melindungi nyawa raja.

Suara tombak dan pedang pasukan berkuda Fastocia beradu dengan pedang dan perisai pasukan Orc. Serangan kilat itu cukup ampuh untuk memberi serangan kejut bagi pasukan Orc sehingga barisan mereka menjadi kacau.

Tak lama kemudian pasukan Infantri datang menyerbu. Menara-menara pemanah didorong hingga ke garis depan oleh beberapa prajurit di bawahnya sehingga para pemanah mampu membidikkan panahnya tepat sasaran ke tubuh Orc. Tak pelak pertempuran sengit terjadi antara pasukan Fastocia dengan pasukan Orc. Suara senjata yang beradu, teriakan perang dan jerit kesakitan terdengar riuh di seluruh penjuru padang hijau.

Chadolice dan kedua saudaranya ikut bertempur bersama barisan infantri. Mereka selalu menyerang satu Orc secara bersamaan. Hal ini dikarenakan kekuatan Orc yang sangat luar biasa dan kebuasan mereka yang tidak akan sanggup dikalahkan oleh seorang prajurit biasa.

Mereka bertiga menerapkan sebuah strategi untuk mengalahkan satu Orc. Chad dan Jeff secara bergantian memancing Orc untuk bertarung, kemudian Orc tersebut akan diserang bersamaan oleh mereka bertiga. Keahlian tombak Brad-lah yang biasanya mampu menusuk daerah vital di tubuh Orc yang tidak terlindungi oleh baju zirah. Mereka bertiga selalu memakai strategi yang sama sehingga hampir tidak ada dari mereka yang terluka sama sekali. Keahlian bertarung yang telah diajarkan kepada mereka sejak kecil pulalah yang turut membantu mereka mengalahkan setiap Orc yang mereka jumpai.

Pertarungan terus berlangsung hingga sore hari datang menjelang. Suara sangkala terdengar dari arah hutan Grat, tanda bahwa pertempuran bagi Orc hari ini telah usai. Mereka menyudahi pertempuran dan kembali ke hutan Grat. Begitu juga dengan pasukan Fastocia. Mereka mengumpulkan mayat-mayat prajurit-prajurit yang gugur dan membawanya ke sebuah liang besar yang telah digali untuk segera dikuburkan. Selain untuk penghormatan bagi mereka yang telah gugur, penguburan mayat juga harus dilakukan secepatnya agar wabah penyakit tidak menjangkiti pasukan yang masih hidup.

Sekitar lebih dari 1000 pasukan Fastocia telah gugur dalam pertempuran di hari pertama. Upacara penguburan singkat dilaksanakan oleh para pendeta kerajaan. Raja Gustave kembali berpidato singkat untuk menghormati mereka yang telah gugur dan membangkitkan kembali semangat prajurit yang lelah setelah seharian bertempur.

Setelah upacara penguburan selesai dilaksanakan dan seluruh mayat prajurit dikuburkan, seluruh prajurit Fastocia kembali ke kemah mereka dan menyiapkan makan malam.

Api unggun besar dinyalakan dan seluruh prajurit berpesta pada malam hari itu. Daging rusa dan anggur dibagikan kepada seluruh prajurit. Para pemain musik memainkan berbagai lagu yang bernada riang. Seluruh prajurit menari bersama dengan gembira, seakan-akan mereka lupa pada pertempuran yang terjadi di siang hari sebelumnya. Mereka butuh kesenangan untuk melupakan kesedihan akibat ditinggal teman-teman mereka yang gugur pada pertempuran hari itu, serta untuk melepas lelah setelah seharian berperang.

Seorang jenderal yang ikut berbaur bersama prajurit tampak mabuk karena terlalu banyak meminum anggur. Ia mengangkat piala anggurnya tinggi-tinggi dan mulai mengoceh keras sambil berjalan sempoyongan, "Besok,, kita akan menghancurkan mereka semua (hick), tunjukkan kepada para mahluk idiot itu (hick), mereka menyerang rumah yang salah." Lalu ia tertawa keras dan diikuti tawa prajurit-prajurit lainnya, mereka kembali menari mengikuti irama sitar yang dimainkan para pemain musik.

Malam semakin menjelang dan salju mulai turun. Pesta terpaksa dibubarkan karena salju tersebut turun dengan lebat. Seluruh prajurit kembali ke tenda mereka masing-masing dan siap untuk bertempur kembali esok harinya.

-------------------------------------------------------------------------

Malam telah berganti pagi, hujan salju yang turun semalam telah berubah menjadi badai yang mengganas. Badai telah hampir usai, namun kabut tebal turun dan mengaburkan pandangan mata.

Di pagi hari tersebut, suara sangkala kembali bertiup menandakan kepada seluruh pasukan untuk segera bersiap. Para prajurit terbangun dari tidurnya dan segera menyiapkan diri dan menyantap sarapan pagi berupa bubur sup yang disediakan oleh koki pasukan. Para prajurit tidak terlalu bersemangat untuk berperang pada pagi hari itu akibat tebalnya kabut dan dinginnya tiupan angin sisa dari badai semalam. Setelah para prajurit selesai menyantap sarapan pagi mereka, mereka berkumpul sesuai dengan barisan mereka masing-masing.

Strategi perang hari itu akan diubah karena kondisi cuaca yang tidak terlalu menguntungkan. Seluruh pasukan hanya akan menunggu serangan Orc tanpa menggunakan serangan kilat pasukan berkuda karena kabut tebal membuat kuda mereka ragu untuk melangkah.

Suara teriakan perang pasukan Orc kembali terdengar dari dalam hutan Grat sebelum raja Gustave sempat berpidato. Para pasukan Orc tampaknya sangat bersemangat untuk berperang pada hari itu tanpa mempedulikan cuaca yang buruk.

Tak lama kemudian pasukan Orc berlarian keluar dari hutan Grat. Para prajurit Fastocia hanya bisa menunggu dengan waswas sambil mendengarkan suara teriakan dan langkah kaki mereka karena mereka tidak dapat melihat pasukan Orc akibat tebalnya kabut.

Raja memerintahkan para pasukan pemanah untuk bersiap. Suara sangkala yang ditiup serta genderang perang yang ditabuh mengiringi berkibarnya bendera-bendera yang bergambar Naga Terbang yang menyemburkan api. Seluruh pasukan pemanah menyiapkan busur dan anak panahnya. Sayang sekali alat pelontar batu tidak dapat digunakan karena cuaca yang lembap membuat tali pelontar batu yang terbuat dari urat hewan menjadi kehilangan tegangannya.

Raja mengayunkan pedangnya dan ribuan anak panah berterbangan di udara. Sebagian besar pasukan Orc tidak dapat melihat arah datangnya anak panah sehingga mereka tidak bisa menghindar dari hujaman anak panah tersebut. Beberapa dari mereka tumbang dan terbangun kembali seraya mengerang kesakitan, lalu mereka kembali berlari untuk menyerang pasukan Fastocia.

Para pemanah terus menembakkan panahnya hingga pasukan Orc muncul dari balik kabut. Para pasukan Infantri telah bersiap di garis depan dan bersiaga dengan perisai mereka. Suara besi beradu kembali terdengar saat pedang dan kapak pasukan Orc menghujam perisai pasukan Fastocia.

Pertempuran besar-besaran kembali terjadi. Pasukan Infantri Fastocia bertarung dengan sengit melawan pasukan Orc. Para pemanah terus menembakkan anak panah ke arah Orc dari atas menara pemanah.

Pertempuran sengit terus terjadi hingga siang hari dan pasukan Fastocia terus terdesak. Cuaca yang kembali mengamuk membuat daya tahan tubuh dan semangat mereka melemah dan mereka menjadi bulan-bulanan senjata Orc. Ribuan prajurit Fastocia berguguran pada pertempuran tersebut.

Tiba-tiba suara teriakan perang lain terdengar dari hutan Grat. Para pasukan Fastocia bertanya-tanya siapakah yang ada di dalam hutan tersebut.

Tak lama kemudian pertanyaan mereka terjawab, ribuan Goblin penunggang serigala berhamburan keluar. Mereka berteriak dengan suara yang menakutkan dan menghujamkan tombak mereka kepada setiap prajurit Fastocia yang mereka temui. Ternyata pasukan Goblin tersebut adalah bantuan untuk pasukan Orc.

Dari barisan paling belakang pasukan Goblin tersebut, muncul seekor serigala putih raksasa. Serigala tersebut 3x lebih besar dari serigala hitam yang ditunggangi oleh para Goblin. Diatas pundak serigala tersebut, duduk seorang penyihir yang mengenakan jubah hitam dan membawa sebuah tongkat sihir panjang yang bermatakan permata hitam. Penyihir tersebut mengarahkan tongkat sihirnya ke arah menara pemanah.

Percikan api keluar dari ujung tongkat sihir tersebut. Percikan api tersebut terus membesar dan berubah menjadi bola api yang meluncur menuju ke arah menara pemanah.

Dalam hitungan detik bola api tersebut menabrak menara pemanah dan menghancurkannya. Pemanah-pemanah yang ada di atasnya terbakar dan berjatuhan ke bawah. Puing-puing kayu dari menara tersebut berjatuhan dan menimpa prajurit Fastocia dan Orc yang bertarung di bawahnya.

Penyihir tersebut mengulang hal yang sama dengan menara pemanah lainnya. Seluruh menara pemanah menjadi sasarannya. Tak terhitung berapa banyak pemanah yang mati terbakar atau terjatuh ke bawah.

Melihat kondisi pasukannya yang semakin terdesak, perintah untuk mundur ke benteng hijau diberikan oleh raja Gustave. Seluruh prajurit Fastocia berlarian menuju ke pintu gerbang benteng hijau.

Dalam suasana yang kacau tersebut, Chad, Jeff dan Brad sedang kebingungan. Mereka bertiga memutuskan untuk ikut berlari bersama para prajurit Fastocia. Namun tak lama kemudian Brad berhenti dan berkata, "Kalian larilah terlebih dahulu, aku akan mencari ayah!" ujarnya sambil berlari ke arah yang berlari ke arah lain.

"Tunggu, Brad!" Teriak Chad, namun Brad telah terlebih dahulu menghilang di balik tebalnya kabut dan ramainya prajurit Fastocia yang berlarian.
"Aku tak menyangka ia pergi meninggalkan kita." Ujar Chad namun tiba-tiba Jeff mendorongnya seraya berteriak, "Chad, awas!!!"

Ternyata ada Orc yang mengincar Chad yang sedang tidak waspada. Orc tersebut mengayunkan pedangnya ke arah Chad dan Jeff yang melihat hal tersebut segera mendorong Chad agar terhindar dari serangan Orc tersebut. Namun pundak Jeff terkena tebasan pedang Orc tersebut, ia jatuh terkapar seraya memegangi luka yang cukup dalam di pundaknya. Chad yang terjatuh karena didorong oleh Jeff berteriak histeris ketika melihat saudaranya jatuh terkapar.

Dalam kemarahan yang luar biasa ia menyerang Orc tersebut. Chad mengayunkan pedangnya namun berhasil ditangkis dengan perisai Orc tersebut. Sedetik Chad lengah dan Orc tersebut mengayunkan pedangnya dan menebas lengan kanan Chad yang terlambat menarik diri. Chad berteriak kesakitan dan membuang pedangnya. Ia terjatuh di atas tumpukan salju di dekat Jeff, dengan kondisi lengan kanan yang terluka parah.

Orc tersebut mendekatinya dan siap untuk melakukan serangan terakhir. Ia berdiri di depan Chad yang tersungkur di tumpukan salju seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Namun saat Orc tersebut akan mengayunkan pedangnya, Chad dengan cepat mengambil pedang milik Jeff dengan tangan kirinya, lalu menusukkannya ke leher Orc tersebut.

Pedang Jeff menancap cukup dalam di tenggorokan Orc tersebut. Darah mengucur deras dan Orc tersebut jatuh diatas tubuh Chad. Chad segera membebaskan diri dari berat tubuh Orc yang menimpanya. Ia mengerang kesakitan seraya memegangi lengan kanannya.

Ia teringat dengan Jeff dan segera menatap tubuhnya yang terbujur kaku di atas tumpukan salju. Jeff belum tewas namun ia sekarat. Nafasnya tersengal-sengal dan wajahnya mulai memucat. Ia telah kehilangan darah yang cukup banyak akibat serangan Orc tadi.

"Kau, melakukan sesuatu yang hebat, Chad," Ujar Jeff dengan terbata-bata.
"Ayo Jeff, aku akan menggendongmu dan kau akan selamat!" Ujar Chad.
"Haha, jangan bodoh, aku tahu lengan kananmu juga terluka parah." Ujar Jeff dengan senyuman getir. "Sekarang tinggalkan aku sendiri disini, aku boleh gugur dalam pertempuran ini tapi kau tidak. Aku sudah sekarat, kurasa kematian akan segera menjemputku..." Jeff tertawa miris, namun tak lama kemudian tawanya berhenti dan matanya tertutup.

Chad memandangi wajah saudaranya yang terlihat seperti sedang tertidur. Ia memahami bahwa saudaranya yang telah bersamanya lebih dari 20 tahun sekarang telah meninggal. Perasaan Chad menjadi sangat sedih, namun ia sadar ia tidak boleh terlalu lama berada disitu karena Orc yang lain akan datang mengincarnya.

Chad memberi penghormatan terakhir dengan mencium kening saudaranya, lalu ia segera bergegas untuk kembali berlari sebelum Orc menyerangnya. Ia membawa pedang milik Jeff dengan tangan kirinya karena pedangnya sendiri hilang entah kemana. Ia tentu saja tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk mencari pedang tersebut.

Para prajurit Fastocia terus berlari menyelamatkan diri ke arah pintu gerbang benteng Hijau yang tampaknya akan segera ditutup. Mental dan semangat mereka telah jatuh. Beberapa dari mereka terkejar oleh pasukan penunggang serigala goblin dan dibunuh dengan sadis sementara yang lainnya dicegat oleh Orc dan terbunuh sebelum sempat melakukan perlawanan.

Chad terus berlari dengan kondisi yang kelelahan dan lengan kanan yang terluka. Napasnya tersengal-sengal dan ia merasa ia tidak akan sanggup untuk mencapai ke gerbang benteng hijau sebelum gerbang tersebut ditutup. Chad berhenti berlari sejenak untuk mengumpulkan nafas kembali.

Tiba-tiba datang salah satu goblin penunggang serigala yang akan menyerang Chad. Chad yang menyadari hal tersebut langsung menghindar sebelum tombak Goblin tersebut menusuk tubuhnya. Chad kembali terjatuh ke atas tumpukan salju.

Goblin tersebut memutar arah tunggangannya dan berhenti sejenak. Serigala yang ditungganginya menatap Chad dengan buas sementara penunggangnya mengambil posisi untuk melempar tombaknya kearah Chad.

Chad tidak kuasa untuk berdiri karena rasa lelah luar biasa yang dirasakannya. Ia hanya terdiam di depan Goblin tersebut, seakan-akan dia merasa bahwa ajalnya kini telah dekat.

Goblin tersebut siap untuk melempar tombaknya, namun tiba-tiba sebuah tombak besar telah menancap di tubuhnya. Goblin tersebut terjatuh dari punggung serigala tunggangannya. Namun tampaknya serigala tunggangannya masih bernafsu untuk membantai Chad. Ia mendengus keras dan menerjang Chad.

Chad berusaha melawan serigala tersebut. Ia mencoba menahan kepala serigala tersebut agar ia tidak menggigit Chad. Kuku-kuku serigala tersebut mencakar-cakar tubuhnya. Chad berusaha bertahan walaupun lengan kanannya terasa sakit luar biasa.

Tak diduga seorang ksatria yang memakai baju zirah dan helm putih datang dengan menunggangi seekor kuda putih. Ia menghunus pedangnya dan menebas kepala serigala tersebut sehingga kepalanya terlepas dari tubuhnya. Tampaknya orang itulah yang melemparkan tombak kepada Goblin tadi.

Chad masih berbaring sambil memegangi tubuh serigala yang sudah tak bernyawa tersebut. Ia melemparkannya dan mencoba untuk bangun. Ia merasa rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya akibat cakaran kuku serigala tadi.

Ksatria tersebut turun dari kudanya dan membuka helm yang menutupi seluruh wajahnya. Chad mengenali ksatria tersebut sebagai ayahnya, Richard Guinglaint.

"Astaga putraku, kukira tidak ada lagi ksatria Guinglaint yang masih hidup." Ujar Richard.
"A-Ayah, Jeff telah..." Chad berbicara dengan menahan sakit, namun ayahnya langsung memotong pembicaraannya.
"Naiklah keatas kudaku, gerbang benteng hijau telah ditutup, kau tidak akan sempat kesana." Lanjut Richard, "Kudaku akan membawamu ke sebuah jalan rahasia dibalik pegunungan itu yang akan membawamu ke desa Leafth."
"Tapi bagaimana denganmu ayah?" Lanjut Chad, "Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu! Lebih baik aku..." Chad tidak sempat melanjutkan pembicaraannya karena tiba-tiba ayahnya memukul tengkuknya dengan ujung gagang pedang.

Chad jatuh pingsan. Ayahnya segera mengangkatnya dan menaikkannya keatas kudanya.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, White." Bisik Richard di telinga kuda tersebut. Seakan mengerti, kuda tersebut langsung berlari secepat kilat ke arah barat.

Richard terus memandangi kuda tersebut hingga ia menghilang dibalik kabut. Ia menghela napas panjang dan berbisik, "Semoga kau tetap hidup, tak akan ada yang tersisa pada klan Guinglaint"

12 comments:

  1. semoga sukses gan! indonesia emg butuh novel dengan genre seperti ini. moga" bisa diterbitkan jadi novel yah ^^

    ReplyDelete
  2. Hoho, tunggu aja kelanjutannya, tongkrongin terus, sip2

    ReplyDelete
  3. jeff mati ? ah kasian padahal pengalaman pertama perang . . huhuh

    ReplyDelete
  4. gile sumpah keren abis.... bakatny jangan disia-sia in terus latih2 dan latih gan

    ReplyDelete
  5. Sip2, aheuaheaheuhaehoaheoaheoe

    ReplyDelete
  6. yuppppp, ini luar biasa mirip mirip Lord of the Ring, perang muluuuuu....
    btw, tulisanya udah ok, penggambaran suasanya juga ok banget cuma dialog ksatrianya kok ya kurang berbobot_ini sekedar masukan lho boz, jangan kesinggung ya.
    mungkin kalo udah dicetak bakalan lain kali ya, coz gw kayaknya gak terbiasa baca online gini...musti dalam bentuk buku, psti serasa membaca novel terkenal, setuju nggak sih ?

    ReplyDelete
  7. @imam = thanks banget atas masukannya, iya gw sekarang masi ngerombak buat memperdalam karakterisasi tokoh :D

    ReplyDelete
  8. tapi kepanikannya kurang pas dipukul mundur. dan suasana perangnya didetailin dong bos haha

    ReplyDelete