Prolog: Serbuan Orc

Hutan Grat, wilayah barat daratan Terra-Fonthea, hari ke-29 bulan Geofu tahun 1857 kalender pembaharuan dewa-dewi.

Musim gugur hampir sepenuhnya usai, dedaunan pepohonan di penjuru hutan Grat telah meranggas secara sempurna. Warna-warni merah, oranye, cokelat dan kuning semburat berhamburan dari dahan-dahan pohon yang tampak telanjang, seakan kehabisan daya untuk menahan daun-daun yang telah melindunginya sejak awal musim semi hingga musim gugur berakhir. Tanah berlumut yang menjadi tempat berpijak bagi pohon di hutan itu, sekarang tertutupi oleh jutaan daun yang terhampar luas di seluruh penjuru hutan, menunggu mengering dan akhirnya hanya akan menghilang di balik tumpukan salju ketika musim dingin tiba. Bau daun basah menyerbak di seluruh penjuru hutan.

Hewan-hewan penghuni hutan telah bersiap diri untuk tidur sepanjang musim dingin dan akan terbangun saat cahaya musim semi yang hangat berpancar kembali. Kelinci-kelinci dan tikus-tikus hutan menggali sarang di dalam tanah, berbagi kehangatan yang diberikan dewa Geofu yang melindungi mereka dari dingin di luar sana. Burung-burung dan tupai-tupai, telah menumpuk persediaan makananan berupa kacang-kacangan di dalam lubang yang mereka buat di batang pepohonan; cukup bagi mereka sebagai persediaan hingga musim semi tiba. Kelompok-kelompok Rusa dan Menjangan yang juga mendiami hutan tersebut, menebalkan bulu mereka untuk menghadapi musim dingin. Mereka hanya bertahan dengan mengais rerumputan yang masih tetap tumbuh di bawah tumpukan salju ketika musim dingin tiba.

Angin utara yang membekukan tulang mulai bertiup lirih malam itu, menandakan bahwa kedudukan bulan Geofu akan segera digantikan oleh bulan Aeron yang menyambut datangnya musim dingin dengan angin yang terus bertiup selama 27 hari. Angin musiman tersebut sesekali bertiup dan menggerakkan cabang-cabang pepohonan, menciptakan sebuah siluet menakutkan yang terpapar di lantai tanah hutan Grat di bawah sinar bulan Geofu yang sesekali mengintip dari balik gumpalan awan tebal.

Di bawah naungan bulan Geofu yang mulai meredup dan bintang-bintang yang sedikit terhalang sinarnya oleh gumpalan awan tebal, sinar-sinar mata serigala hutan bermunculan di balik gelapnya malam. Mereka mengawasi sekelompok rusa yang sedang terlelap yang akan segera mereka dapatkan untuk makan malam; mereka cukup lapar dan mereka harus segera makan sebelum dinginnya musim dingin akan membunuh mereka dan anak-anak mereka yang baru lahir musim semi lalu. Serigala-serigala yang kelaparan itu berburu secara berkelompok, mengelilingi kelompok rusa yang akan segera menjadi makan malam mereka. Gigi-gigi yang basah dengan air liur bergemeretak kedinginan ketika angin utara kembali bertiup. Suara dan bau serigala yang dibawa angin tersebut sontak membangunkan kelompok rusa yang sedang terlelap itu, namun sebelum mereka semua sempat berlari, para serigala telah menerjang dari balik pepohonan ke arah mereka. Kelompok rusa tersebut lari berhamburan dan mengeluarkan suara "ngik-ngik" dari tempat mereka terlelap. Para serigala menggonggong keras dan mencoba mengepung mereka dari segala arah. Seekor rusa betina berhasil digapai oleh salah satu serigala dengan kuku-kukunya yang tajam. Dengan sigap serigala itu menggigit bokong mangsanya. Rusa betina itu memekik keras dan dengan kaki belakangnya menendang dada serigala tersebut. Ia mencoba mengejar kawanannya yang telah berlari jauh namun serigala lainnya dengan sigap menangkapnya dan menancapkan kuku dan gigi mereka yang tajam ke tubuhnya. Rusa betina itu terjatuh karena tidak berdaya menghadapi kepungan para serigala. Darah merah muncrat dan mengalir dari bekas cabikan kuku dan gigitan serigala. Ia hanya bisa menatap sedih ke arah kawanannya yang telah berlari jauh untuk menyelamatkan diri. Menunggu kematian, rusa betina itu memekik kesakitan ketika serigala lainnya menerkam lehernya dan memutuskan tali kehidupan rusa tersebut.

Rantai makanan berputar, gerombolan serigala itu mengakhiri perburuan dan berpesta dengan hasil buruan mereka; seekor rusa betina gemuk yang mampu menghidupi kelompok mereka selama beberapa hari. Seekor serigala jantan yang tampaknya adalah pemimpin dari kelompok tersebut hanya berdiri diam dan mengawasi para serigala betina dan serigala muda mencabik dan melahap daging merah buruan mereka. Sudah menjadi tugasnya untuk menjaga kawanannya selama mereka menikmati buruan yang mereka dapatkan. Ia hanya bisa mengais sisa-sisa daging yang terselip diantara tulang-belulang hasil buruannya, atau bahkan tidak mendapatkan sisa sama sekali. Pengorbanan yang ia lakukan semata-mata demi kelangsungan hidup para serigala yang bernaung di dalam kelompok yang ia pimpin.

Angin utara lagi-lagi kembali bertiup. Tiupan angin tersebut membawa bau aneh yang tertangkap oleh hidung serigala pemimpin kelompok tersebut. Bulu-bulunya yang berwarna hitam sontak berdiri. Ada sebuah kengerian dan ketakutan yang ditimbulkan oleh bau tersebut dan menyebabkan sang serigala melolong keras. Lolongan tersebut diikuti oleh lolongan serigala lain dalam kelompoknya yang juga menangkap bau aneh tersebut. Mereka semua seakan terhipnotis untuk berdiri dan mengakhiri makan malam mereka. Sang pemimpin kelompok mulai berjalan menjauh dan diikuti oleh anggota kelompoknya. Mereka bergegas berlari menjauh dan meninggalkan seonggok bangkai rusa betina dengan isi perut yang telah kosong dan usus yang memburai, serta tiga dari empat kaki yang telah dilahap habis oleh para Serigala. Jelas bahwa bau tersebut bukanlah pertanda bahwa mereka menemukan mangsa atau mencium bau bangkai lainnya. Hidung mereka sepertinya sangat sensitif dengan bau yang menjadi pertanda kehadiran ras barbar yang sangat kejam dan ditakuti di seluruh penjuru daratan Terra-Fonthea. Bau tersebut adalah bau Orc!

Orc adalah ras barbar yang dikenal dengan kekejamannya membantai manusia dan ras-ras lainnya. Mereka hidup dengan kelompok-kelompok kecil yang tersebar di pegunungan Orc dan padang kering Glidlur yang terhampar luas di tengah daratan Terra-Fonthea. Tubuh Orc tiga kali lipat lebih besar dari tubuh manusia, perbandingan yang seimbang karena otak mereka juga tiga kali lipat lebih kecil dari otak manusia. Kulit mereka berwarna cokelat kehijauan dan bau yang menjadi pertanda kehadiran mereka sangat khas; campuran antara bau amis darah, keringat dan kekejaman. Mereka memiliki keahlian yang dicuri dari bangsa Dwarf untuk menempa besi dan membuat perisai dan senjata-senjata seperti pedang skimitar, kapak, palu godam dan tombak. Mereka dipercaya sebagai ras ciptaan Garland sang dewa kegelapan yang dibentuk dari campuran lumpur dari rawa-rawa di tanah asin Yuatsha serta pasir dari padang kering Glidlur, dan ditugaskan untuk membinasakan bangsa Dwarf dan Elf, serta ras manusia di kemudian harinya.

Tak jauh dari onggokan bangkai rusa betina tersebut, dari arah utara datang gerombolan Orc yang memakai perlengkapan perang lengkap dengan baju pelindung, senjata serta panji-panji perang bergambar tengkorak. Sebagian besar dari mereka bersenjatakan pedang skimitar, tapi banyak juga yang membawa kapak, palu godam dan tombak. Sisanya yang lain membawa senjata-senjata perang yang eksotis; Tongkat kayu yang memiliki duri di bagian matanya, rantai besi yang di ujungnya tergantung sebuah bola besi berduri, senjata yang memiliki dua sisi pedang di masing-masing ujung gagangnya dan macam-macam senjata lainnya yang tidak biasa digunakan oleh ras manusia. Mereka berjumlah lebih dari tiga ribu Orc. Jumlah tersebut bisa dihitung sangat besar karena biasanya mereka hanya datang dengan kelompok-kelompok kecil yang jumlahnya tidak lebih dari seratus Orc. Mereka berjalan menuju selatan tempat dimana kerajaan Fastocia berada. Tampaknya mereka akan menyerang kerajaan tersebut.

Di barisan paling depan gerombolan Orc tersebut, tampak seorang penyihir hitam menunggangi seekor serigala putih raksasa. Penyihir tersebut mengenakan jubah hitam kumal yang menutupi tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut sementara bagian wajahnya tertutup oleh sebuah topeng besi yang tampak datar tanpa ekspresi. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat sihir sepanjang empat hasta, bermatakan sebuah batu permata berwarna hitam. Suara bergemerincing terdengar dari gelang-gelang besi yang melingkari tongkat sihirnya ketika ia menggerakkannya. Tangan kirinya menggenggam tali kekang serigala tunggangannya. Serigala putih yang ia tunggangi sesekali menyeringai, menampilkan barisan gigi taring yang sebesar dan setajam pedang Skimitar Orc. Sisa-sisa daging dan air liur terselip di sela-sela gigi tersebut, menunjukkan bahwa ia baru saja diberi daging segar sebagai makanan.

Penyihir hitam itu adalah Arghol. Seorang Necromancer terakhir yang masih hidup sejak kejatuhan kerajaan Gardan. Ia berasal dari timur jauh tepatnya dari tanah asin Yuatsha yang tidak berpenghuni. Ia jauh-jauh datang ke kerajaan Fastocia di pesisir barat Terra-Fonthea untuk mendapatkan batu Orb.

Batu Orb adalah sebuah batu hitam bundar yang menyegel kekuatan magis dari Naga Hitam Orbheus. Seribu tahun yang lalu para Necromancer dari kerajaan Gardan menciptakan Orbheus untuk membinasakan para Elf yang dianggap sering mengganggu kerajaan Gardan. Orbheus yang menyerang hutan Loraint berhasil ditahan kekuatannya dan akhirnya disegel di dalam kawah gunung berapi Gollus dengan perantara batu Orb. Batu tersebut diserahkan kepada kerajaan Fastocia untuk dijaga. Para Elf di hutan Loraint tidak mau mengambil resiko yang dapat terjadi kapan saja karena kekuatan jahat di dalam batu tersebut. Kerajaan Fastocia telah berhutang budi karena mendapatkan bantuan dari para Elf ketika mereka memberontak dan memerdekakan diri dari kerajaan Gardan. Batu Orb diterima dan dijaga oleh para penyihir kerajaan sebagai balas budi kepada para Elf di hutan Loraint.

Lima ratus tahun telah berlalu dan kini Arghol, sang Necromancer terakhir mencoba mendapatkan batu tersebut dan membangkitkan kembali Orbheus.

"Alor!" Seru Arghol dengan suara berat namun sangat keras hingga terdengar sampai barisan paling belakang para Orc.

Dari arah belakang, muncul seorang penunggang kuda yang memacu kudanya dengan kencang. Derap langkah kuda tersebut mendahului para Orc yang berjalan dengan lamban. Sang penunggang, memakai jubah hitam kumal yang juga menutupi seluruh tubuhnya. Dari hidung mancung sedikit bengkok yang mencuat dari wajah yang tersembunyi di dalam jubah yang ia kenakan, jelas terlihat bahwa ia adalah Goblin, sepupu jauh Orc yang juga dipercaya sebagai ras ciptaan dewa Garland.

Ia memperlambat derap langkah kudanya dan mendekatkannya ke samping hewan tunggangan Arghol. "Ya Tuanku Arghol, hamba siap menerima perintahmu." Ujar Alor melongok keatas dan memandang tuannya seraya menarik tali kekang kudanya untuk mengimbangi langkah Serigala putih raksasa yang ditunggangi Arghol.
"Perintahkan mahluk-mahluk tak berotak itu untuk mempercepat langkah mereka! Kelambanan hanya akan menghalangi ambisiku! Siapapun yang berjalan lamban akan kubinasakan!" Arghol memandang lurus kedepan. Suaranya yang terdengar berat dan serak dari balik topeng besinya, sanggup menggema hingga terdengar di seluruh penjuru hutan Grat, membuat kelelawar-kelelawar hutan yang sedang hinggap berkelompok di sebuah pohon tanpa daun berhamburan berterbangan.
"Baik Tuan, hamba akan memastikan bahwa para Orc akan berjalan lebih cepat." Alor berbalik memacu kudanya kembali ke belakang barisan. Ia mengeluarkan sebuah Sangkala dari balik jubahnya dan meniupnya dengan tetap menjaga irama kecepatan derap langkah kudanya, melewati barisan mengular Orc yang bergerak ke selatan. Para Orc yang mendengar suara Sangkala tersebut mempercepat langkah kaki mereka. Mereka sadar akan konsekuensi nyata dari sihir Arghol jika mereka tidak menuruti kemauannya.

Pasukan besar Orc tersebut terus berjalan menuju padang Hijau di selatan hutan Grat. Telapak kaki mereka yang tidak beralaskan sepatu menimbulkan jejak kaki di jalan tanah yang mereka lalui. Angin utara yang terus bertiup terasa tidak mempan untuk membuat mereka menggigil kedinginan, walau mereka tidak memakai selembar mantel sekalipun. Raut wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan keletihan walau mereka telah berjalan sangat jauh dan hampir tanpa istirahat. Sebaliknya mereka terlihat sangat bersemangat dengan sesekali menyeringai dan menampilkan gigi-gigi mereka yang bergerigi karena sering diasah dan dikikir.

Angin utara terus bertiup, membawa kabar kematian bagi para prajurit Fastocia yang telah mendirikan kemah di padang Hijau. Beberapa hari yang lalu datang dua prajurit berkuda dari arah hutan Grat. Keduanya adalah mata-mata kerajaan Fastocia di garis depan. Mereka berdua memacu kuda dengan kencang melewati hutan Grat dan padang Hijau. Setelah dua hari penuh berkuda, akhirnya mereka tiba di benteng Hijau, gerbang sebelum memasuki wilayah kerajaan Fastocia. Mereka membawa berita menggemparkan; ribuan Orc sedang bergerak dari arah utara dan akan tiba di padang Hijau dalam beberapa hari.

Raja Gustave XII, segera memberi perintah kepada para jenderalnya untuk mengumpulkan pasukan dari segala penjuru wilayah kerajaan guna membendung serangan tersebut. Dalam waktu tiga hari, para prajurit telah didatangkan dari provinsi Leona, Turin dan Farlov. Pasukan tersebut berjumlah lima ratus pasukan Kavaleri, lima ribu pasukan Infanteri dan pemanah, dan sekitar seratus ksatria dan bangsawan baik dari kerajaan Fastocia maupun kerajaan tetangga Beogard, serta alat-alat perang seperti pelontar batu dan menara pemanah.

Seluruh pasukan tersebut disiagakan di padang Hijau. Ribuan prajurit berbaris menyebrangi jembatan di benteng Hijau. Mereka membangun tenda-tenda dan paviliun-paviliun di bagian selatan padang Hijau yang dekat dengan benteng tersebut. Beratus-ratus kereta yang berisi perbekalan seperti tepung, daging serta anggur didatangkan dari seluruh penjuru kerajaan. Alat pelontar batu dibawa dengan kereta kuda dan segera dirakit kembali setelah tiba di padang Hijau. Menara pemanah dibawa dengan posisi tidur agar bisa melewati jembatan di benteng Hijau lalu ditegakkan kembali. Para ksatria berdatangan dengan menaiki kuda dan membawa panji-panji dan bendera yang bersimbolkan klan mereka masing-masing.

Perang besar mempertahankan batu Orb bagi kerajaan Fastocia akan segera dimulai. Takdir seluruh daratan Terra-Fonthea akan dipertaruhkan dalam pertempuran antara pasukan Fastocia dengan pasukan Orc.

No comments:

Post a Comment