Bab 2: Tevlan Sang Pemburu

Matahari musim dingin terlihat bersinar cukup terang pada pagi hari itu. Di ujung langit barat masih terlihat bulan Aeron yang belum hilang walaupun malam telah digantikan oleh pagi.

Badai yang terus memburuk selama beberapa hari telah reda hari itu. Hewan-hewan hutan di lembah Leafth keluar berkeliaran mencari makan setelah berhari-hari tertahan di sarangnya akibat badai salju tersebut.

Dibalik rimbunnya pohon pinus dan cemara di lembah tersebut, tampak seorang pemuda berjalan mengendap-endap. Ia berjalan sangat pelan sambil memegangi busur dan anak panahnya. Ia berhenti di sebuah tempat yang ia anggap strategis untuk membidik buruannya. Ya, dia memang seorang pemburu dari desa Leafth di selatan lembah Leafth.

Pemuda tersebut bernama Tevlan. Ia berumur sekitar 17 tahun. Tevlan memiliki wajah yang biasa-biasa saja dengan mata yang berwarna cokelat dan rambut hitam pendek. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk berburu hewan liar di lembah Leafth. Biasanya daging hasil buruannya akan ia makan sendiri sementara kulit dan bagian-bagian tubuh lain yang cukup berharga akan ia jual di kota pelabuhan Falova. Ia seringkali merasa bosan tinggal di desa Leafth yang kecil dan terasing dari pusat keramaian, bahkan pedagang-pedagang di kota Falova sekalipun enggan untuk berkunjung ke desa tersebut karena banyak perampok dan hewan buas yang akan menyerang mereka. Tevlan memimpikan sebuah petualangan yang akan membawanya ke negeri-negeri yang belum pernah ia jumpai.

Tevlan sedang melamun membayangkan tempat-tempat asing di daratan Terra-Fonthea ketika tiba-tiba di balik tempat persembunyiannya muncul kawanan rusa. Rusa-rusa tersebut sedang mencari rerumputan segar yang tersembunyi di bawah tumpukan salju. Tampaknya mereka tidak menyadari kehadiran Tevlan yang sedang mengamati mereka.

Tevlan siap untuk membidik buruannya. Dengan nyaris tidak bersuara ia mulai mengambil ancang-ancang untuk memanah. Ia mulai menarik tali busurnya dan mengarahkannya ke salah satu rusa yang ia anggap paling gemuk. Namun saat ia akan melepaskan anak panah dari busurnya, tiba-tiba kawanan rusa tersebut dikagetkan oleh suara kuda yang meringkik di dekat tempat tersebut. Kawanan rusa tersebut berlarian dan anak panah Tevlan meleset tidak mengenai sasaran.

"Sial!" Gerutu Tevlan. Ia penasaran dengan pemilik kuda tersebut. Ia berpikir jangan-jangan kuda tersebut milik para perampok yang sedang bersembunyi di lembah tersebut.

Ketika Tevlan masih berumur 12 tahun, ia dan ayahnya sedang berburu ketika mereka tidak sengaja menemukan sebuah tempat persembunyian perampok. Para perampok yang tidak ingin tempat persembunyiannya terbongkar, menyerang Tevlan dan ayahnya. Tevlan berhasil kabur namun ayahnya terbunuh oleh anak panah beracun milik perampok tersebut. Tevlan berlari sekuat tenaga kembali ke desanya dan melaporkan kejadian tersebut kepada pasukan patroli Fastocia yang memang sedang memburu para perampok tersebut. Tevlan menjadi pemandu pasukan tersebut kearah tempat persembunyian para perampok. Para perampok tersebut mencoba melawan namun pada akhirnya mereka berhasil tertangkap sementara yang lainnya terbunuh dalam perlawanan. Tevlan membawa jasad ayahnya dan menguburkannya di desa Leafth. Sejak itu ia menjadi sebatang-kara karena ibunya telah meninggal sejak ia lahir, ia juga menjadi sangat benci terhadap perampok.

Tevlan mencoba mencari dari mana arah datangnya suara kuda tersebut. Ia berjalan perlahan seraya memasang telinga tajam-tajam. Ia kembali mendengar suara ringkikan kuda tersebut dan pergi ke arah tersebut. Ia berjalan sangat pelan dengan tangan memegang busur dengan anak panah yang siap untuk dilepaskan jika ia bertemu dengan perampok.

Ketika ia semakin dekat ke arah suara kuda tersebut, ia mulai menarik tali busurnya. Namun saat ia akan membidikkan panahnya, ia kaget karena ternyata suara kuda tersebut bukanlah suara kuda milik perampok.

Suara kuda tersebut ternyata berasal dari seekor kuda putih yang sedang menyingkap salju untuk menemukan rumput. Tevlan melihat seseorang yang sepertinya telah mati di atas punggung kuda tersebut. Tevlan mendekati kuda tersebut. Kuda putih itu hanya mendengus ketika melihat Tevlan mendekatinya dan melanjutkan acara makannya. Tevlan memeriksa orang yang tergeletak di atas punggung kuda tersebut. Ia memeriksa denyut nadinya dan tampaknya ia masih hidup.

Tevlan mengamati kondisi orang tersebut. Ia terlihat sedikit lebih tua darinya dan mengenakan baju zirah yang telah rusak. Terdapat sebuah luka menganga di tangan kanan orang tersebut dan di sekujur badannya dipenuhi dengan noda darah yang telah mengering.

"Kurasa dia bukanlah perampok." Pikir Tevlan, "Mungkin dia adalah salah satu prajurit yang kemarin berperang dengan Orc, tapi bagaimana ia bisa sampai disini?"

Tevlan memutuskan untuk membawa orang tersebut ke desanya. Disana ia bisa diobati oleh Dorin, seorang peramu obat-obatan handal yang mungkin dapat menyembuhkannya.

Tevlan menarik tali kekang kuda putih tersebut agar ia mengikutinya. Kuda tersebut menurut dan berjalan mengikuti Tevlan. Ia terlihat sangat jinak seakan-akan ia tahu bahwa Tevlan akan mengobati tuannya. Ia dan kuda tersebut berjalan menyusuri pepohonan cemara dan pinus di lembah tersebut. Tak lama kemudian ia sampai di desa Leafth setelah menyebrangi jembatan yang menghubungkan desa dengan lembah Leafth.

Tevlan berjalan menyusuri rumah-rumah di desa tersebut. Seorang penebang kayu yang sedang membelah kayu bakar menyapanya.

"Hey Tevlan, kuda siapa itu?" Tanya penebang kayu tersebut.
"Entahlah, mungkin milik orang ini." Jawab Tevlan.
"Lalu, siapakah dia? Apakah dia salah satu kawanan perampok yang berhasil kau bunuh?" Tanyanya lagi.
"Bukan-bukan, aku menemukannya ketika aku sedang berburu, lihat baju zirah yang dikenakannya, ia mungkin salah satu prajurit yang bertempur kemarin."
"Aneh sekali, bagaimana dia bisa sampai kesini?" Penebang kayu tersebut semakin penasaran.
"Entahlah, sudah dulu ya, aku harus membawanya ke Dorin, ia masih hidup tapi terluka parah." Ujar Tevlan sambil berlalu.

Tak lama kemudian Tevlan tiba di depan sebuah rumah yang lebih cocok dikatakan sebagai gubuk. Rumah tersebut terlihat sangat kotor dan tidak terurus. Di samping rumah tersebut terdapat sebuah ladang yang biasanya ditanami tanaman obat-obatan selama musim semi hingga musim gugur. Di sebelahnya lagi terdapat sebuah tiang jemuran yang dipenuhi dengan kain tunik yang tampaknya baru selesai dicuci.

"Kau tunggu disini." Ujar Tevlan kepada kuda putih tersebut seraya mengikat tali kekangnya di tiang jemuran tersebut. Tevlan lalu berjalan kearah pintu rumah tersebut dan menggedornya. "Halo, ada orang? Aku menemukan sesorang yang sedang terluka parah disini." Teriak Tevlan sambil terus menggedor pintu.

Pintu dibuka, seorang perempuan tua mengintip dari balik pintu. Perempuan tersebut berumur sekitar 50 tahunan, ia terlihat agak gemuk dan walaupun sudah tua, wajahnya menyimpan seberkas sinar kehangatan, seperti seorang nenek-nenek ramah yang akan memberimu kue jika berkunjung ke rumahnya.

"Ada apa?" Ujar Dorin.
"Aku menemukan seseorang yang terluka parah ketika sedang berburu di lembah Leafth." Lanjut Tevlan, "Ia tampaknya salah satu prajurit yang bertempur di padang hijau."
"Mana dia?" Ujar Dorin seraya menengok ke arah kanan dan kiri untuk mencari orang yang dimaksud Tevlan. "Bawa dia masuk, cepat."

Tevlan kembali ke kuda putih tersebut dan memanggul tubuh orang tersebut. Ia tampaknya sudah terbiasa memanggul tubuh hewan buruannya sehingga ia tidak kesusahan ketika memanggul orang tersebut. Ia membawa orang tersebut ke dalam rumah Dorin dan membaringkannya di sebuah tempat tidur.

Dorin memeriksa luka di lengan kanan dan tubuh orang tersebut. Ia meminta Tevlan untuk mengambil lap yang dibasahi dengan air hangat lalu ia menaruh lap tersebut diatas kepalanya.

"Hmmm, lukanya terlihat sangat parah, namun ajaib pemuda ini masih hidup" Ujar Dorin. "Ia kedinginan dan terserang demam, aku butuh beberapa tanaman dari hutan, kau bisa mengambilkan beberapa akar dan daun?"
"Hey, bukankah sekarang musim dingin? Pasti tanaman tersebut tidak dapat kutemukan?" Ujar Tevlan sangsi
"Kau bisa menemukannya di sekitar air terjun Aiglhondur, disana tanaman tersebut tidak mengenal istilah pergantian musim." Jawab Dorin.
"Baiklah, tapi mungkin perjalananku sedikit lama karena medan ke air terjun tersebut cukup sulit." Ujar Tevlan.
"Ah aku tau kau sudah sangat mengenal seluruh daerah di lembah Leafth." Ujar Dorin.

Tevlan beranjak keluar dan memakai kuda putih milik pemuda tersebut untuk kembali ke lembah Leafth, sementara Dorin menyiapkan obat-obatan yang diperlukan. Ia membuka lemari yang isinya dipenuhi oleh berbagai macam botol yang isinya berbagai macam ramuan dan tanaman obat.

"Ah, dimana aku menyimpannya." Gumam Dorin sambil mencari-cari diantara botol-botol tersebut, "Ah ini dia, akar tanaman Glycyrrhizic, sekarang kau akan sembuh nak."

Dorin membuka botol tempat menyimpan akar tanaman Glycyrrhizic. Akar tanaman tersebut telah mengering dan kelihatannya telah disimpan cukup lama dalam botol tersebut. Ia lalu menumbuk daun tersebut dengan berbagai macam tanaman obat lainnya hingga melumat dan bercampur rata.

Dorin kembali ke ranjang pemuda tersebut dan membuka seluruh baju zirahnya yang telah rusak. Ia membasuh luka dan darah kering di tubuh Chad dengan kain yang telah dibasahi dengan air hangat. Setelah semua luka tersebut bersih, ia melumurkan ramuannya ke daerah-daerah luka yang menganga dan memerbannya dengan kain.

Setelah selesai, Dorin pergi ke dapur untuk membuat ramuan baru sambil menunggu kedatangan Tevlan.

---------------------------------------------------------------------------

Chad berdiri sendirian di padang hijau. Di sekelilingnya ia melihat mayat-mayat prajurit Fastocia dan Orc bergelimpangan. Padang hijau yang sebelumnya berwarna putih karena salju sekarang seakan berwarna merah oleh darah mayat-mayat tersebut. Ribuan burung-burung gagak berterbangan di angkasa dan menyantap bangkai mayat-mayat tersebut. Mereka terlihat berpesta-pora dan seakan tidak peduli dengan Chad yang berdiri sendirian.

Di kejauhan Chad melihat bayangan benteng hijau yang terbakar. Ia memutuskan untuk berjalan ke arah benteng tersebut.

Ia terus berjalan diantara bangkai-bangkai manusia dan Orc yang bertebaran. Semakin jauh ia berjalan, semakin banyak mayat-mayat yang terlihat. Ia seolah berada di sebuah lautan mayat.

Ketika sedang berjalan, dari arah kejauhan ia melihat seseorang berdiri. Ia memutuskan untuk mendekati orang tersebut. Ketika ia tiba, ia sangat kaget karena melihat mayat-mayat kelima saudaranya dan ayahnya mengelilingi orang tersebut. Orang tersebut memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan memegang sebuah tongkat sihir.

Chad menjadi sangat marah dan sedih. Ia menghunuskan pedangnya dan berlari menyerang penyihir tersebut. Namun saat hampir mencapai orang tersebut, ia tiba-tiba tidak bisa menggerakkan badannya dan hanya mampu terdiam melihat penyihir tersebut.

Penyihir tersebut tertawa terkekeh-kekeh dan berkata dengan suara yang berat, "Kemarilah, penuhi takdirmu! Bangkitkan kembali Gardan!"

Chad terbangun dari mimpinya. Ia mendapati dirinya di atas sebuah ranjang dan memakai sebuah selimut butut. Ia mengamati sekitar dan mendapati seorang nenek tua yang berjalan mendekatinya.

"Ah, akhirnya kau bangun juga, beristiratlah, kau telah pingsan selama 3 hari." Ujar Dorin
"Di, dimana aku?" Tanya Chad dengan suara bergetar.
"Kau berada di rumahku, di desa Leafth." Lanjut Dorin, "Tevlan, seorang pemburu, menemukanmu dan kudamu di lembah Leafth. Kau sekarat dan ia membawamu kesini untuk kuobati."

Chad hanya terdiam. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Ia teringat lengan kanannya terluka parah, namun saat ia memeriksa lukanya, ia tak mendapati satu noda sekalipun.

"Aku telah menyembuhkan luka-lukamu, ajaib dirimu masih hidup dengan kondisi seperti itu." Lanjut Dorin, "Siapa namamu nak?"
"Chad, Chadolice, aku ksatria dari klan Guinglaint." Jawab Chad yang masih takjub dengan menghilangnya luka di lengan dan tubuhnya.
"Ah, Guinglaint muda, aku jadi mengerti bagaimana dirimu bisa sampai ke lembah Leafth." Ujar Dorin, "beberapa puluh tahun yang lalu ketika aku masih anak-anak, aku sedang mencari tanaman obat yang diminta guruku di lembah Leafth. Ketika itu aku bertemu dengan beberapa goblin yang entah bagaimana bisa berada disitu. Ketika aku akan berteriak, seorang pemuda membungkam mulutku dan memintaku untuk diam. Pemuda tersebut luka parah dan para goblin tersebut tampaknya mencarinya. Setelah goblin-goblin tersebut pergi, aku membantu pemuda tersebut untuk ke desa ini. Guruku menyembuhkan lukanya dan ia sangat berterima-kasih kepada guruku dan diriku. Ia menyebutkan namanya sebagai Richard Guinglaint."

"Ah, dia ayahku, ia telah mengetahui sebuah jalan rahasia yang menghubungkan padang hijau dengan lembah Leafth." Lanjut Chad, "Karena itulah aku berhasil selamat karena pengorbanannya."

"Jadi dia telah meninggal? Aku turut berduka-cita nak, telah berpuluh-puluh tahun kami tidak bertemu." Ujar Dorin.
"Entahlah, aku belum tahu kabarnya, namun kurasa ia masih hidup sekarang." Ujar Chad menyangsikan mimpi yang baru saja di alaminya.

Dorin meminta Chad menyantap sebuah sup hangat yang ia buat. Ia mengatakan bahwa sup tersebut akan mengisi perut Chad yang telah kosong selama beberapa hari dan membantunya memulihkan tubuhnya. Chad menyantap sup tersebut dengan lahap, perutnya terasa kosong setelah berhari-hari pingsan.

Tak lama kemudian, pintu rumah Dorin terbuka. Tevlan masuk dengan membawa beberapa ekor kelinci hutan buruannya dan sekantong tanaman obat.

"Ini tanaman obat yang kau minta Dorin, dan dan aku bersumpah ini untuk yang terakhir kalinya aku ke air terjun Aiglhondur, medannya terlalu berat dan aku tadi hampir mati karena ada salju yang longsor." Ujar Tevlan, "Hei, pemuda tersebut telah terbangun."

"Hai, kau pasti Tevlan, terima kasih telah menyelamatkan nyawaku." Ujar Chad.
"Tentu, siapa namamu? kau pasti salah satu prajurit yang ikut bertempur di padang hijau bukan?" Tanya Tevlan dengan semangat.
"Namaku Chad, Chadolice, aku ksatria dari klan Guinglaint." Lanjut Chad, "Ya, aku ikut dalam pertempuran tersebut."
"Ah, ternyata kau seorang ksatria, ceritakan bagaimana hasil pertempuran tersebut." Semangat Tevlan menggebu-gebu untuk mendengarkan cerita Chad.
"Yah, pertempuran yang buruk, kami para pasukan Fastocia terdesak disaat hari kedua, para Orc tersebut ternyata mendapatkan bantuan dari para penunggang serigala Goblin." Lanjut Chad, "Aku berhasil lari kesini dengan bantuan ayahku yang memberikan kudanya, entahlah mungkin ada semacam jalan rahasia antara padang hijau dengan lembah Leafth."
"Lukamu terlihat sangat parah? Bagaimana kau bisa terluka separah itu?" Tanya Tevlan.
"Aku bertarung sendirian dengan Orc, ia berhasil melukai tangan kananku namun aku berhasil membunuhnya dengan pedang milik saudaraku Jeff." Chad terdiam sejenak dan teringat akan Jeff, "Ia telah meninggal."
"Aku turut berduka cita atas kematian saudaramu, Chad."
Chad melanjutkan ceritanya, "Dan luka di sekujur tubuhku ini karena serangan serigala Goblin, terima kasih kepada, err, aku tidak tahu namamu?"
"Dorin." Dorin menjawab singkat.
"Ya, terima kasih karena telah menyembuhkan lukaku, bagaimana kau menyembuhkannya secepat ini?"
"Aku hanya menggunakan akar Glycyrrhizic warisan dari guruku, ia mendapatkannya dari hutan Loraint." Jawab Dorin, "Sekarang lebih baik dirimu beristirahat saja, lukamu telah sembuh namun dirimu belum sembuh benar."
"Eh, baiklah, kapan aku bisa pulih benar? Aku harus segera kembali ke Delfador untuk mencari saudara-saudaraku yang mungkin masih hidup." Ujar Chad.
"Besok pagi pasti kau akan sembuh. Aku bisa mengantarmu hingga ke pelabuhan Falova, aku perlu membeli beberapa ramuan disana." Ujar Dorin.
"Hei, aku ikut, kalian pasti membutuhkan seseorang yang mampu melindungi kalian dari perampok dan hewan buas bukan?" Tambah Tevlan.
"Yaya, tapi sepertinya aku lebih percaya kepada Chad, ia mampu membunuh satu Orc, daripada seorang anak muda yang hanya bisa berburu kelinci hutan saja." Canda Dorin.
Muka Tevlan merah padam, "Hei, aku tadi hampir saja mendapatkan seekor rusa gemuk jika saja salju tidak longsor dan aku tidak harus berlari menyelamatkan diri!"

Chad tertawa kecil. Ia kembali menyantap supnya. Dorin menyuruh Tevlan untuk kembali ke rumahnya agar Chad bisa beristirahat. Malam telah datang dan Chad tertidur dengan pulas. Ia tidak sabar untuk kembali ke ibukota dan mencari saudara-saudaranya yang ia yakin masih ada yang hidup.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Matahari pagi terbit dan menyinari lembah dan desa Leafth dari balik pegunungan kabut. Penduduk desa yang mayoritas pemburu dan penebang kayu mulai melakukan aktifitas mereka masing-masing. Para petani tidak dapat menggarap ladang mereka di musim dingin, mereka lebih memilih berdiam di rumah sambil menikmati hangatnya perapian atau bekerja sambilan sebagai pemburu dan penebang kayu.

Pagi itu Chad terbangun dan merasa sangat segar. Dorin telah terbangun lebih dulu sebelum Chad dan ia telah menyiapkan sarapan berupa sup yang sama seperti kemarin. Chad menyantap sup tersebut dengan lahap.

"Dimana baju zirahku?" Tanya Chad sambil menyeruput supnya.
"Aku sudah membuangnya, kau tidak akan bisa memakainya lagi." Ujar Dorin, "Tapi pedang dan mantelmu masih kusimpan, aku telah mencucinya."
"Terima kasih Dorin, entah dengan bagaimana aku bisa membalas segala kebaikanmu." Ujar Chad berterima kasih.
"Aku tidak butuh apapun darimu, sudah berpuluh-puluh tahun aku menyembuhkan penduduk desa tanpa mengharapkan imbalan apapun." Ujar Dorin.

Chad menghabiskan sarapannya lalu ia bergegas untuk menyiapkan diri. Ia mengenakan mantel putihnya yang telah dicuci oleh Dorin dan menyarungkan pedang
Jeff yang dibawanya. Tak lama kemudian ia keluar dari rumah Dorin dan bertemu dengan Tevlan yang telah menunggunya diluar.

"Tidurmu nyenyak?" Tanya Tevlan.
"Ya, cukup nyenyak." Lanjut Chad, "Kau benar-benar ingin ikut?"
"Tentu, bawa aku sekalian ke ibukota. Aku sudah bosan diam terlalu lama di desa yang kecil ini. Lihat, aku telah menjual segala harta peninggalan orangtuaku untuk membeli kuda ini dan sebagai bekal perjalanan." Jawab Tevlan seraya memamerkan seekor kuda berwarna cokelat dan kantung berisi uang di tangannya.
"Ah, baiklah, tapi apa yang akan kau kerjakan di ibukota?" Tanya Chad lagi.
"Apa saja! Aku akan mencoba mengadu nasib, tapi jika aku kurang beruntung, kurasa aku akan mendaftarkan diri sebagai prajurit." Jawab Tevlan semangat.

Chad melihat semangat yang dimiliki Tevlan. Ia masih sangat muda dan terlihat seperti anak-anak, namun Chad merasa ia memiliki jiwa petualangan yang tinggi.

Tak lama kemudian Dorin muncul dengan menaiki seekor keledai. Di samping kiri-kanan keledai tersebut terdapat keranjang untuk menyimpan berbagai tanaman obat dan ramuan yang akan ia beli di pelabuhan Falova.

"Kau yakin akan menaiki hewan itu?" Sindir Tevlan, "Ia hanya akan memperlambat perjalanan kita."
"Anak muda, jika kau mau membelikanku seekor kuda dengan perhiasan peninggalan ibumu yang kau jual, tentu saja aku akan sangat bersenang hati." Dorin balik menyindir Tevlan."
"Hei, bagaimana kau bisa tahu?" Wajah Tevlan kembali merah padam seperti wajan penggorengan.
"Tentu, aku tahu karena akulah yang membantu ibumu ketika beliau melahirkanmu." Jawab Dorin, jawabannya membuat Chad bingung namun wajah Tevlan semakin merah padam.
"Sudah-sudah, aku harus kembali ke ibukota secepatnya, dimana kau menyimpan kudaku?" Tanya Chad.
"Itu, apa kau tidak melihatnya? Mungkin ia berkamuflase diantara salju." Wajah Tevlan kembali normal dan ia tertawa bersama Chad.

Chad berjalan menuju ke arah White. Ia membelai kepala kuda tersebut dengan lembut, seakan-akan ia sangat berterima kasih karena kuda tersebut telah menyelamatkan nyawanya. Chad melepas ikatan tali kekang kuda tersebut lalu menaikinya. Kuda tersebut tampak bersemangat sekali.

"Kita berangkat!" Ujar Chad dengan semangat.

Chad, Tevlan dan Dorin berangkat dengan tunggangan mereka masing-masing. Mereka memacu kuda dan keledai mereka dengan pelan menyusuri rumah-rumah penduduk di desa tersebut. Seorang anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya berlari ke balik badan ibunya yang menemaninya ketika ia melihat mereka bertiga. Dia terlihat takut dengan hewan tunggangan mereka bertiga, seakan-akan ia akan diinjak oleh kuda dan keledai tersebut. Ibu anak tersebut menyapa mereka dengan ramah.

"Selamat Pagi, kalian mau ke Falova?" Tanya Ibu yang masih muda tersebut, "Dan siapakah pemuda ini?"
"Ya, kami akan ke Falova. Dia adalah salah satu prajurit yang bertempur di padang hijau kemarin." Lanjut Dorin, "Dia berhasil menyelamatkan diri hingga kesini."
"Ah, beruntung sekali kau bisa sampai kesini," Wajah ibu tersebut berubah menjadi muram, "Ayah anak ini adalah prajurit Fastocia, ia ikut bertempur dalam peperangan tersebut, namun sampai sekarang aku belum mendapatkan kabar darinya. Terakhir kali ia mengirim surat kepadaku, mengatakan bahwa ia akan berperang melawan Orc."

Chad tertegun mendengar perkataan ibu muda tersebut. Ia menatap wajah anak laki-lakinya yang kira-kira masih berumur 5 tahun. Anak tersebut masih terlihat ketakutan dengan kuda mereka, ia bersembunyi di belakang ibunya dan memegang roknya erat-erat.

"Yah, seandainya ia cukup pintar untuk mengikutimu sampai kesini, aku pasti akan memukulnya karena telah membuatku cemas, hahaha." Tawa ibu tersebut untuk menghibur diri, "Tentu aku tidak akan mengijinkan anakku ini untuk mengikuti jejak ayahnya. Lebih baik ia hidup biasa saja sebagai seorang petani dan penebang kayu."
"Kami turut berdoa semoga suamimu selamat." Ujar Chad, "Sekarang kami mohon ijin untuk meneruskan perjalanan karena saya harus kembali ke ibukota secepatnya."
"Oh tentu-tentu, maaf aku jadi terbawa dengan suasana." Lanjut ibu tersebut, "Semoga perjalanan kalian menyenangkan."

Chad, Tevlan dan Dorin mengucapkan salam kepada ibu muda tersebut dan mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian mereka bertiga telah keluar dari pintu masuk desa Leafth.

Perjalanan menuju ke kota Falova menempuh waktu hanya setengah jam jika mereka memacu kuda mereka untuk berlari. Namun karena keledai Dorin yang berjalan lamban, mereka harus menempuh waktu hingga 3 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan, Chad mengamati pemandangan di sekitarnya. Pemandangan di samping kiri dan kanan jalan menuju kota Falova didominasi oleh pepohonan cemara dan pinus. Bayang-bayang dari perbukitan yang memisahkan laut dengan daerah hutan Leafth terlihat samar-samar di belakang pepohonan cemara dan pinus tersebut.

Chad dapat memilih 2 jalan untuk menuju ibukota dari kota Falova. Yang pertama adalah melalui provinsi Leona dengan melewati perbatasan dan berkuda menuju kota Valencia, lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai ke ibukota. Pilihan kedua adalah melalui provinsi Turrin dengan melalui jembatan di kota Teneor dan berkuda menuju kota Turrin, lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di ibukota. Kedua jalan tersebut sama-sama membutuhkan waktu hingga 1 setengah hari untuk sampai ke ibukota, namun karena keadaan yang tidak aman dengan adanya pasukan Orc dan Goblin yang telah masuk ke provinsi Leona, Chad tampaknya harus memilih jalur kedua melalui provinsi Turrin.

Mereka bertiga hampir tiba di kota Falova ketika tiba-tiba cuaca yang sedari pagi cukup cerah sekarang mulai berubah. Hujan salju mulai turun dan lama-kelamaan mulai membesar dan dengan segera akan menjadi badai salju. Mereka bertiga telah memasuki gerbang kota Falova ketika badai mulai terjadi.

Kota Falova adalah satu-satunya kota pelabuhan di Fastocia. Kota tersebut menjadi denyut nadi perekonomian dengan banyaknya pedagang yang terus berdatangan selama musim semi, panas, dan gugur. Namun selama musim dingin terutama pada bulan Aeron, hampir tidak ada pedagang yang singgah di Falova karena kondisi laut yang sering berubah karena buruknya cuaca. Hanya beberapa pedagang dari negeri Vandals yang terkenal tangguh saja yang berani menghadapi badai dan singgah di Falova.

Chad, Tevlan dan Dorin berjalan menuntun kuda dan keledai mereka di dalam kota tersebut. Mereka menyusuri daerah-daerah permukiman yang warna temboknya didominasi oleh warna pualam putih. Ketika sampai di sebuah persimpangan jalan, Dorin hendak memisahkan diri dari Chad dan Tevlan.

"Pergilah mencari penginapan, sangat berbahaya untuk melanjutkan perjalanan ke ibukota dalam cuaca seburuk ini." Ujar Dorin sambil menahan dinginnya angin utara yang bertiup dalam badai tersebut "Aku akan pergi ke toko untuk membeli segala ramuan yang kubutuhkan."

Mereka bertiga berpisah, Dorin pergi menuju ke sebuah toko ramuan langganannya, sementara Chad dan Tevlan pergi menuju ke penginapan. Tevlan telah hapal jalan menuju ke penginapan tersebut karena ia memang sering datang ke Falova untuk menjual hasil buruannya. Terkadang ia mencoba peruntungan dengan bermain judi dadu di penginapan yang juga merupakan bar tersebut. Sayangnya ia selalu kalah, entah ia memang kurang beruntung atau memang ia dibodohi oleh pemain lainnya.

Tak lama kemudian Chad dan Tevlan tiba di depan sebuah penginapan. Papan nama penginapan tersebut terbaca sebagai "Bar dan Penginapan Bjarni". Tevlan mengajak Chad untuk menaruh kudanya di istal yang ada di samping penginapan tersebut. Mereka memasuki istal kuda dan meminta seorang pengurus istal untuk mengurus kuda mereka. Tevlan memberi 2 koin logam perunggu kecil ke orang tersebut sebagai jasa pengurusan kudanya dan kuda Chad selama 1 hari.

Chad dan Tevlan memasuki penginapan tersebut. Di dalam, suasana cukup ramai. Beberapa orang sedang menikmati segelas susu kambing dan keju yang hangat, sementara yang lainnya sedang bermain judi dadu. Mereka asyik bercengkrama tentang berbagai isu mulai dari kekalahan pasukan Fastocia di padang hijau hingga cuaca yang memburuk akhir-akhir ini.

Pemilik penginapan tersebut menyapa Tevlan ketika ia melihatnya masuk, "Hei nak, apa kabar? Siapa temanmu itu?"
"Halo Bjarni, ini Chad, dia adalah salah satu ksatria yang kemarin ikut berperang di padang hijau." Jawab Tevlan kepada Bjarni.
"Ah, ksatria! Hei teman-teman, lihat ada salah satu ksatria yang ikut berperang di padang hijau!." Ujar Bjarni kepada seluruh pengunjung bar tersebut. Beberapa orang menolehkan pandangannya ke Chad dan tampak penasaran dengannya.

Chad dan Tevlan duduk di depan Bjarni yang sedang agak sibuk melayani pesanan.

"Ngomong-ngomong, aku akan membayar semua utangku disini." Ujar Tevlan sambil mengeluarkan kantong uangnya.
"Ah, tentu, kau sedang banyak uang rupanya?" Tanya Bjarni.
"Ya, aku baru saja menjual perhiasan milik mendiang ibuku." Jawab Tevlan, "Aku akan mencoba mengadu nasib ke ibukota."
"Hahaha, tampaknya kau terlalu bosan berdiam di desamu nak." Lanjut Bjarni, "Dan, kau, ksatria, ingin pesan sesuatu? Maaf kami kehabisan bir dan anggur. Sudah sejak 2 hari yang lalu tidak ada kiriman dari luar karena cuaca yang buruk, bahkan tong bir terakhir kami dibeli oleh orang Vandals itu." Bjarni menunjuk dua orang Vandals yang sedang duduk dan menikmati susu kambing. "Aku sebenarnya tidak mau menjualnya, namun mereka membelinya dengan harga 2x lipat, hahaha."
"Oh ya, tidak apa-apa, aku pesan susu kambing saja." Ujar Chad sementara Tevlan beralih ke tempat judi dadu, ia berharap hari ini ia cukup beruntung untuk melipat gandakan uangnya.
"Ok, pesananmu akan segera tiba. Ngomong-ngomong kau akan pergi kemana?" Tanya Bjarni lagi.
"Ibukota, aku harus mencari saudara-saudaraku yang mungkin masih hidup." Jawab Chad.
"Ibukota? Sayang sekali sepertinya kau tidak akan bisa pergi kesana selama beberapa hari ini." Lanjut Bjarni, "perbatasan antara provinsi Leona dan provinsi Farlov ditutup dan para penjaga tidak memperbolehkan siapapun untuk melewatinya, kecuali orang-orang dari provinsi Leona yang akan mengungsi. Sementara jembatan di desa Teneor baru saja rusak diterjang badai beberapa hari yang lalu, mungkin butuh waktu 1 minggu untuk membetulkannya, jika cuaca cerah tentunya."
"Tidak ada jalan lainkah?" Tanya Chad.
"Maksudmu kau akan mengambil rakit dan menyusuri pantai hingga ke desa Treagh? Tentu saja tidak bisa, ombak di laut sedang mengganas akhir-akhir ini," Lanjut Bjarni, "Tapi, hei, mungkin 2 orang Vandals itu bisa membantumu. Aku dengar mereka akan melewati perbatasan, dan tong bir yang mereka beli pasti akan digunakan untuk menyogok para penjaga perbatasan. Ngomong-ngomong, ini pesananmu"
Chad menolehkan pandangannya ke 2 orang Vandals tersebut, "Aku akan mencoba bertanya kepada mereka."

Chad mengambil gelasnya dan pindah ke meja 2 orang Vandals tersebut. Ia mencoba menyapa mereka, namun wajah mereka tampak sedang kesal.
"Hei kawan, ada masalah?" Tanya Chad.
"Ya-ah, khami bhuduh horhang hundhuk pherghi khe Dhelfahadhor." Ujar salah satu orang Vandals tersebut dengan logat khas mereka.
"Pergi ke Delfador? Kebetulan aku juga akan pergi kesana, mungkin aku bisa membantumu." Ujar Chad.
"Ya-ah, jhika khau sherihus dhengan hal thersebhud, khami dehendhu akhan shangat shenangh." Jawabnya.
"Perkenalkan, namaku Chadolice, aku seorang ksatria dari klan Guinglaint." Ujar Chad mengenalkan diri.
"Nhamhaku Ga Drakh, hinhi themankhu Oric, hia lhebih shenhang beherdhiam dhiri" Ujar Ga Drakh, "Khami ha-arus mhenghandarkhan pheshanan shesehorang dhi Dhelfadhor, nhamhun bhenchanha dhadhang sehirhing dhenghan dhathanghnya Orc-Orc thershebut, khami suda-ah dherdahan dhi Falhovha shelamha 3 ha-arhi. Khamhi mhemang dhaphat mhelhewahadhi pherbhadashan dhenghan muhulush, nhamun khami bhuduh bhebherapha horhang hundhuk mehembhandu mhenjagha baharhang baharhang khami. Jhadhi, hapha khepehendhinghanmhu pherghi khe Dhelfadhor?"
"Aku baru saja mengikuti pertempuran di padang hijau dan aku berhasil melarikan diri hingga ke desa Leafth." Lanjut Chad sambil meminum susu kambingnya, "Dan sekarang aku harus kembali ke ibukota untuk mencari saudara-saudaraku yang masih hidup."
"Ya-ah, hakhu mengherdi, shejhak khemharin hakhu mhenchari horhang-horhang yhang mahu dhibayhar hundhuk mhenjagha baharhang baharhang khami, nhamhun hamphir dhidhak adha yhang beheranhi khe Dhelfadhor hakhir-hakhir hini, parha Orc-Orc dhershebut mhemang shenhang mhenchari mhasalhah." Lanjut Ga Drakh, "Nhamun khurasa kahau shaja chukup hundhuk mhembhanthu khami. Dhaphi khau sherihus mahu mhembhawha hanak hidhu?" Tanya Ga Drakh sambil menunjuk Tevlan yang sedang asyik bermain judi dadu.
"Ya, tentu saja, ada masalah?" Tanya Chad.
"Dhidhak, nhamhun khusharhankhan hanak hidhu dhidhak hushah hikhut." Jawab Ga Drakh, "Pherjahalanhan khe Dhelfadhor shangat bherbahaya, mhasih bhanyhak Orc dhan Ghoblhin yhang bherkheliharan dhi lhuar shana, hakhu rhasa khau harhus memhikirkhan hal dhershebut bahik-bahik."
Chad berpikir sejenak, ia menoleh ke Tevlan lalu kembali berbicara, "Aku akan memikirkannya lagi nanti, kapan kita berangkat?"
"Bheshok phaghi, shebhelhum mhadaharhi dherbhit." Lanjut Ga Drakh, "Hakhu hakhan mhenhungghumhu di dhephan, jhika khau mhenghambhil khepudhusan hundhuk dhidak mhenghajaknya, jhanghan bhanghunkan dhia."
"Baiklah, besok pagi aku akan siap sebelum matahari terbit. Senang berkenalan denganmu Ga Drakh, dan kau, err.."
"Oric." Ujar Oric singkat, ini pertama kalinya ia berbicara setelah sedari tadi ia hanya diam saja.
"Ya, Oric. Ok, kalau begitu permisi, aku mau memesan makanan." Ujar Chad disertai anggukan Ga Drakh dan Oric.

Chad beralih menuju ke Bjarni kembali.
"Bagaimana? Kau berhasil?" Tanya Bjarni disela kesibukannya.
"Ya, ternyata mereka tidak terlihat seseram penampilan mereka." Ujar Chad.
"Haha, orang-orang Vandals yang datang kesini biasanya dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu orang-orang Vandals yang berdagang dan orang-orang Vandals yang suka berpetualang. Mereka tampaknya adalah orang Vandals yang suka berdagang." Ujar Bjarni.
"Ah, lalu bagaimana dengan Oric? Yang lebih tinggi itu, dia terlihat tidak ramah dan hanya diam saja ketika aku berbicara dengan Ga Drakh." Tanya Chad.
"Hmmm, mungkin dia adalah salah satu tipe yang suka berpetualang, kemarin ketika ia datang aku melihat ia membawa sebuah kapak yang cukup besar." Ujar Bjarni, "Ngomong-ngomong, kau tidak lapar? Keju panggang kami adalah yang terbaik di seluruh Falova ini."
"Hmmm, ok baiklah." Lanjut Chad, "Kapan badai ini berhenti? Aku mau melihat-lihat laut daripada aku harus berdiam disini seharian."
"Ok, pesananmu segera tiba. Sepertinya badai ini akan berlangsung hingga malam hari nak, lebih baik kau istirahat saja di penginapan setelah makan." Ujar Bjarni.

Tak lama kemudian Tevlan datang dan wajahnya tampak kesal. Tampaknya ia kalah taruhan lagi kali ini. Ia duduk di samping Chad.

"Sial, aku kehilangan lebih dari setengah uangku." Ujar Tevlan.
"Ingat saja agar kau tidak lupa untuk membayar sewa penginapan nak." Lanjut Bjarni "Ini pesananmu."
"Ah, baiklah." Ujar Chad seraya menerima sepiring keju panggang dari Bjarni.
"Yaya, aku masih punya uang untuk membayar penginapan, namun tampaknya aku harus menjadi prajurit ketika sampai di ibukota." Ujar Tevlan, "Sial."

Tevlan terus menggerutu hingga sore datang. Suasana di bar tersebut semakin ramai namun Chad memutuskan untuk beristirahat di penginapan.

Chad menaiki tangga menuju ke penginapan yang terdapat di lantai 2 bar tersebut. Di lantai atas berjejer kamar-kamar yang memiliki nomer di pintunya. Chad mencari kamarnya dengan bantuan nomer yang tertera di kunci yang diberikan oleh Bjarni. Tak lama kemudian ia memasuki sebuah kamar di paling ujung lantai 2.
Kamar tersebut cukup rapi dan memiliki 2 tempat tidur, satu untuk Chad dan satunya untuk Tevlan. Chad membuka mantelnya dan menghempaskan diri keatas ranjang. Ia mencoba memejamkan mata walaupun hari belum terlalu malam. Dalam hitungan menit ia mulai tertidur dan kembali memimpikan mimpi buruk itu lagi...

15 comments:

  1. CEPET LANJUTIN, GW MAKIN PENASARAN :P gw sangka dorin-nya cakep, ato minimal si chad jd suka sm dia, eh taunya nenek2, mana cewek cakepnya nih?! *sounds like pervert

    ReplyDelete
  2. @Az, ngahahaha, sabar deh, bab 3 sedang dalam penulisan -_-

    Mending sambil baca2 tentang penulis ato faq deh ;))

    ReplyDelete
  3. woi.

    logatnya org Vandals terlalu deh.. jadi rada pusing gw bacanya. hehehe.

    ReplyDelete
  4. Ya itu semacam alay gitu deh tung, wkwkwkwkkwkw

    ReplyDelete
  5. buset.

    alay?! bwaahahahaa.. kok sepi yg baca ya, donat? ayo promosiin lg..

    ReplyDelete
  6. Keren ceritanya gan, ditungguin bab 3nya :D

    ReplyDelete
  7. Tetap berkarya, kapan nih keluar novelnya?

    ReplyDelete
  8. iya org sandals nya bikin gw capek bacanya .
    AH CHAD GANTENG (L) (L) (L)

    ReplyDelete
  9. Hohoho, pada tungguin yah

    @clarita = fantasi anda terlalu liar :|

    ReplyDelete
  10. ada clarita homoo........................

    ati2 pada mas donatz

    ReplyDelete
  11. ooo kirain legenda kaskus...

    ReplyDelete
  12. hoooooo...keren2...tapi bisa ga agak dikurangin penggunaan kata 'tersebut'??kayanya pas awal2 agak terlalu banyak y jadinya sdikit ngeganggu...tapi keren laah...

    ReplyDelete