Bab 3: Perjalanan ke Delfador

Chad bangun dari tidurnya sebelum matahari menyapa Terra-Fonthea di pagi itu. Semalam ia mengalami mimpi yang serupa dengan mimpi yang dialaminya saat ia sedang sekarat. Ia berada di tengah padang hijau dengan ribuan mayat prajurit Fastocia dan Orc bergelimpangan. Ketika ia berjalan menuju ke arah benteng hijau yang sedang terbakar, ia bertemu lagi dengan Arghol. Mayat-mayat saudara dan ayahnya tampak mengelilingi Arghol dan ia hanya tertawa terkekeh-kekeh. Ketika Chad hendak mendekatinya, ia lagi-lagi merasa badannya tidak dapat bergerak dan penyihir hitam tersebut berkata dengan suara serak, "Kemarilah, wahai penerusku, bangkitkan kembali Gardan yang telah lama tertidur!". Setelah itu ia langsung terbangun dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhnya.

Chad melihat Tevlan tidur dengan pulas di ranjang sebelahnya. "Ini waktunya." Pikir Chad. Ia langsung bangkit dari ranjangnya dan mengambil pedang dan mantelnya. Dengan segera ia keluar dari kamar tersebut dengan mengendap-endap lalu turun ke bawah. Disana ia bertemu dengan Bjarni yang sedang membereskan barnya.

"Selamat pagi Bjarni." Sapa Chad seraya mengenakan mantelnya.
"Selamat pagi, tidur nyenyak?" Ujar Bjarni seraya menurunkan bangku-bangku yang diletakkan diatas meja, tampaknya ia baru saja selesai mengepel lantai bar tersebut.
"Yea, kau melihat 2 orang Vandals itu?" Tanya Chad.
"Mereka sudah menunggumu di depan." Lanjut Bjarni, "Oh iya, kau tidak perlu memikirkan masalah biaya penginapan, Tevlan semalam berkata ia akan membayar semuanya, ia berkali-kali memenangkan taruhan tadi malam. Ngomong-ngomong kau ingin sarapan?"
"Oh, maaf aku sangat buru-buru sekali, mereka sudah menungguku." Ujar Chad.
"Kau akan meninggalkan anak itu? Bagaimana jika kau membawa beberapa potong roti?" Ujar Bjarni, anak yang dia maksud adalah Tevlan.
"Yah, aku sudah berjanji kepada 2 orang Vandals itu untuk tidak membawanya, perjalanan ke ibukota sangat berbahaya, para Orc dan Goblin mungkin saja masih berkeliaran di provinsi Leona." Ujar Chad, "Baiklah, beberapa potong roti cukup untuk mengganjal perut."
"Ah, kurasa itu keputusan yang cukup bijaksana, namun tentu dia akan sangat kecewa sekali. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan roti di dapur." Ujar Bjarni seraya melangkah ke dapur bar tersebut, tak lama kemudian ia membawa bungkusan kain berisi roti.
"Ah, terima kasih Bjarni." Ujar Chad seraya menerima bungkusan tersebut, "Maaf sekali aku tidak memiliki uang untuk membayar semuanya."
"Tidak apa-apa, kan sudah kubilang Tevlan yang akan membayarnya." Ujar Bjarni. "Hati-hati di jalan, lebih baik hindari Orc dan Goblin jika kau bertemu mereka."
"Ya, sekali lagi terima kasih, sampai jumpa Bjarni." Ucap Chad seraya melangkah keluar dari bar.

Di luar bar telah menunggu Ga Drakh dan Oric. Mereka menaiki sebuah kereta kuda yang ditarik oleh 2 ekor kuda. Ga Drakh tampak sedang memeriksa barang bawaannya diatas kereta kuda tersebut sementara Oric sedang asyik memakan roti.

"Ah, hakhirnyha khau bhanghun jhugha." Ujar Ga Drakh, "Khau shudhah menghambhil khepudhushan yhang dhepat hundhuk dhidak menghajhak hanhak hidhu bhukan?"
"Ya, tunggu sebentar, aku akan mengambil kudaku." Ujar Chad. Ia memasuki istal di sebelah penginapan Bjarni dan mengambil kudanya. Pengurus kuda tersebut hanya mengangguk-angguk ketika Chad mengeluarkan kudanya. Ketika Chad telah mengeluarkan kudanya dari istal tersebut, dari kejauhan tampak Dorin yang datang dengan keledainya.

"Hei, pagi Dorin." Sapa Chad.
"Pagi, kau sudah akan berangkat nak?" Tanya Dorin
"Ya, aku angkat berangkat dengan mereka." Jawab Chad sambil menunjuk kereta kuda milik Ga Drakh dan Oric.
"Jadi kau akan meninggalkan Tevlan? Ia tentu akan sangat kecewa." Tanya Dorin dengan raut muka yang sedikit serius.
"Khamhi dhidhak bhisa mhengambhil seghala rhesiko bhu." Ujar Ga Drakh sebelum Chad sempat menjawab pertanyaan Dorin. "Hia mhasih shangat mudha shemendhara pherjalhanan khe Dhelfadhor shangat bherbahayha."
"Ah, baiklah, aku mengerti dengan hal tersebut." Ujar Dorin, "Ngomong-ngomong Chad, bawalah ramuan ini." Dorin menyerahkan sebungkus kain yang berisi ramuan yang ia buat, "Ini adalah ramuan dari akar Glycyrrhizic, jika kau terluka, cukup oleskan ramuan ini dan perban dengan kain."
Chad menerima bungkusan tersebut dan berkata, "Oh, terima kasih Dorin, sekali lagi terima kasih atas segala bantuan darimu."
"Selamat jalan Chad, setelah ini aku harus segera kembali ke desa." Ujar Dorin. "Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu, kau mewarisi senyum ayahmu, hahaha." Ia tertawa kecil.
"Baiklah Dorin, aku harus segera berangkat, tolong sampaikan permintaan maafku kepada Tevlan karena aku tidak sempat mengajaknya." Lanjut Chad, "Ia mungkin bisa datang ke ibukota di lain waktu dan pasti aku akan membantunya."

Chad menaiki kudanya dan mulai berangkat bersama kedua orang Vandals tersebut. Dorin mengamati mereka lalu mulai pergi dengan keledainya ke arah desa Leafth. Di sepanjang jalan-jalan di kota Falova, Chad melihat banyak pedagang yang sedang menyiapkan barang dagangannya. Mereka menjajakan berbagai macam barang seperti perhiasan manik-manik, perkakas-perkakas dapur hingga senjata sekalipun dijual di tempat tersebut. Pemandangan seperti itu bisa dilihat hampir setiap hari mulai dari pagi hingga sore hari di kota Falova. Kadang kala juga ada pasar malam jika sedang ada perayaan-perayaan tertentu.

Sementara itu di penginapan Bjarni, Tevlan terbangun dan kaget ketika tidak mendapati Chad di tempat tidurnya. Ia melihat sekeliling dan tidak menemukan pedang dan mantel Chad. Ia segera mengambil barang bawaan dan busurnya dan bergegas turun ke bawah. Disana ia bertemu dengan Bjarni yang telah selesai membereskan barnya.

"Dimana Chad?" Tanya Tevlan.
"Kau terlambat bangun nak, ia telah berangkat bersama 2 orang Vandals tersebut." Ujar Bjarni sambil mengelap gelas-gelas yang tertata rapi di lemari kayu. "Ngomong-ngomong jangan lupa membayar, kau tidak akan berhutang lagi kan?"
"Ah, tentu." Ujar Tevlan sambil membuka kantong uangnya dan menyerahkan beberapa keping uang logam perunggu besar, tak lama kemudian ia segera bergegas keluar dari bar dan berkata, "Ambil saja kembaliannya."
Bjarni memeriksa jumlah uang yang diberikan oleh Tevlan dan berkata, "Hei, ini tidak cukup!" Namun sayang sekali Tevlan telah keluar dari bar tersebut dan bergegas untuk mengambil kudanya.

Tevlan segera menaiki kudanya dan memacunya kencang. Ia mencoba mengejar Chad dan 2 orang Vandals tersebut sebelum mereka keluar dari kota Falova dan mencapai perbatasan provinsi. Di sepanjang jalan ia melalui rumah-rumah dan toko-toko yang berjejeran di sisi jalan utama menuju pintu gerbang timur kota Falova.

Tiba-tiba di tengah perjalanan ia terpaksa menghentikan kudanya. Ia melihat kerumunan pedagang dan pembeli di sepanjang jalan utama yang membuat jalan tersebut nyaris tidak dapat dilalui oleh kuda sekalipun. Pemandangan tersebut sebenarnya sudah sering dilihat oleh Tevlan saat ia berkunjung ke Falova, namun kali ini ia harus memutar otak bagaimana caranya ia bisa melewati kemacetan tersebut.

Ia memutuskan untuk segera memutar arah dan mencoba melewati pelabuhan yang menurutnya tidak terlalu ramai karena hanya ada sedikit kegiatan bongkar muat selama musim dingin di pelabuhan tersebut. Ia kembali memacu kudanya dengan kencang tanpa menghiraukan udara dingin yang menerpanya.

Tak lama kemudian ia sampai di sisi pelabuhan. Hanya ada sedikit kapal yang sedang membuang sauh di pelabuhan tersebut, kebanyakan hanya ada kapal barak milik orang Vandals yang terkenal tangguh mengarungi badai sebesar apapun. Beberapa orang tampak sedang membongkar muatan kapal tersebut. Burung-burung camar terlihat terbang mengelilingi tiang-tiang kapal dan hinggap di atap-atap bangunan di pelabuhan tersebut.Tevlan memacu kudanya di sisi kapal-kapal yang sedang membuang sauh tersebut. Ia hampir saja menabrak seseorang yang sedang membawa jaring yang penuh berisi ikan, namun dengan sigap ia berhasil menghindarinya. Orang tersebut mengumpat dan menyumpahi Tevlan namun ia tidak peduli dan tetap memacu kudanya hingga akhirnya ia memasuki jalan alternatif yang tidak seramai jalan utama.

Tevlan terus memacu kudanya hingga akhirnya ia tiba di pintu gerbang timur kota Falova. Di kejauhan ia melihat sebuah kereta kuda dan ia yakin Chad ada disana. Ia segera mengejarnya dan akhirnya berhasil mencapai kereta kuda tersebut.

"Hei, Tunggu!" Teriak Tevlan untuk menghentikan laju kereta kuda tersebut.

Chad yang menunggangi kudanya dan berada di depan kereta kuda tersebut menoleh dan mendapati Tevlan yang sedang memacu kencang kudanya. Ia segera menghentikan kudanya dan meminta kedua orang Vandals tersebut untuk ikut berhenti.

"Kenapa kalian meninggalku?" Tanya Tevlan ketika ia tiba di dekat Chad.
"Khau Yhakhin Hundhuk Hikhut? Khau mhasih shanghat mhuda dhan dhidhak bherpenghalamhan, pherjalhanan khe Dhelfadhor shangat bherbahayha dhengan hadanyha phara Horc dhan Ghoblhin!" Ujar Ga Drakh sebelum Chad sempat untuk menjelaskan.
"Kalian mengira aku hanyalah seorang anak kecil ingusan?" Tevlan mulai sedikit marah, "Aku telah berumur 18 tahun, dan aku sudah diperbolehkan untuk menjadi prajurit. Aku seorang pemanah handal dan aku pernah mengalahkan beberapa perampok di desaku hanya dengan panahku ini!"
"Khau mhampu? Khalau bhegidhu bukdhikan khalau khau mhemang mhampu!" Ujar Oric, ia merasa perkataan Tevlan bukan hanya sekedar bualan.

Tevlan marah dan mukanya menjadi merah. Ia merasa Oric hanya mengejeknya sebagai anak ingusan tukang membual saja. Ia melihat sekeliling dan matanya tertuju ke sebuah papan petunjuk jalan yang berada beberapa puluh meter dari tempat mereka. Di atas papan tersebut terdapat sebuah penunjuk arah yang dapat berputar jika tertiup angin. Tevlan merasa itu adalah sasaran yang tepat untuk membuktikan bahwa ia bukan hanya sekedar anak ingusan belaka.

"Kau lihat papan tersebut?" Ujar Tevlan, "Aku akan membidikkan panahku tepat di tengah penunjuk arah yang sedang berputar diatasnya!"

Oric melihat kearah papan tersebut. Ia melihat penunjuk arah di atasnya berputar dengan cepat karena kencangnya angin, ia merasa target tersebut cukup sulit untuk dibidik.

"Bhaiklah, hanhak mhuda, jhika khau bherhasil mhembhidhikkan phanahmhu khe hadhas phaphan dhershebhut, khau bholeh hikhud khe Dhelfadhor." Ujar Oric.

Tevlan mengambil busurnya dan sebuah anak panah yang menurutnya adalah sebuah anak panah keberuntungan. Dengan anak panah keberuntungannya tersebut, selama ini ia selalu berhasil membunuh hewan buruannya dengan satu bidikan. Ia selalu mencabut anak panah tersebut dari tubuh hewan buruannya dan membersihkan serta mengasahnya lagi.

Dari atas kudanya, Tevlan dengan percaya diri menarik tali busurnya dan mengarahkannya ke penunjuk arah yang berputar tersebut. Ketika ia merasa arah angin telah tepat, dengan cepat ia melepaskan anak panah keberuntungannya. Dalam hitungan detik anak panah tersebut melesat dan menancap tepat di tengah-tengah penunjuk arah yang mulai berhenti berputar tersebut. Ia memamerkan senyum kemenangannya kepada Chad dan 2 orang Vandals yang sedikit terkesima tersebut.

"Bagaimana? Kalian masih menganggapku sebagai anak ingusan?" Ujar Tevlan.
"Ya-ah, bhaiklah khau bholeh hikut dhengan khami." Ujar Ga Drakh, Oric hanya mengangguk tanda bahwa ia kagum dengan kemampuan Tevlan.

Tevlan tersenyum senang. Ia memacu kudanya ke arah papan tersebut dan mencabut anak panah keberuntungannya. Namun sayang sekali anak panah tersebut patah ketika ia mencoba mencabutnya. Tampaknya anak panah itu menancap terlalu kuat di penunjuk jalan tersebut. "Ah biarlah, aku mungkin tidak akan membutuhkannya lagi" Pikir Tevlan. Lalu ia kembali lagi ke kereta kuda Ga Drakh dan Oric.

Tak lama kemudian, mereka berempat melanjutkan perjalanan menuju ke Delfador. Sebelum mereka dapat memasuki provinsi Leona, mereka harus melewati sebuah gerbang perlintasan yang dijaga sangat ketat oleh para prajurit Fastocia. Di gerbang perbatasan tersebut tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk ke provinsi Leona. Ternyata para Orc telah membobol benteng hijau di utara kerajaan Fastocia dan beberapa hari yang lalu mereka telah membumi-hanguskan kota Valencia. Beberapa pengungsi berhasil lari menuju ke gerbang perbatasan tersebut, sementara yang lain lari menuju ibukota. Tak sedikit rakyat Fastocia di provinsi Leona yang dibunuh oleh Orc, sementara anak-anak mereka ditangkap oleh Goblin untuk dijadikan budak dan bekerja di tambang-tambang mereka.

"Ceritakan tentang negeri asalmu." Tanya Tevlan penasaran, ia tampaknya cukup jenuh menempuh perjalanan yang agak jauh tersebut.
"Khami bherashal dhari nhegeri Vhandals, shebuah nhegerhi yhang dherledhak jauh dhi hudhara. Khami hidhup bherdamphingan dhengan phara Dwarfs" Ujar Ga Drakh, "Shelama bheribu-ribu dhahun, kherajhaan Ghardan mhenchoba hundhuk mhenakhlukhan nhegerhi khami, nhamun mherekha dhidak phernah bhisa mhenghalahkhan lheluhur khami yhang phemberani. Lheluhur khami bahu-mhembahu dhengan bhangsha Dwarfs hundhuk mhelawhan Ghardan shelama rhadusan dhahun, shelama hidhu phula khami dhedaplah shebuah nhegeri yhang mherdeka dhan hidhup dhamai dhengan bhangsha Dwarfs. Dhiceridhakan khedika lelhuhur pherdama khami, Garrugh yhang dhibawha holheh bhangsha Dwarfs khe hudhara, dhisanha hia dhirawhad holheh bhangsha Dwarfs dhan khedurhunannyha dherus bherdambhah dhan hidhup bhershama bhangsha Dwarfs." Ga Drakh mengakiri kisahnya.
"Lalu, barang apa yang kau bawa ke ibukota?" Tanya Chad, tampaknya ia juga ikut penasaran.
"Shebuah phedhang bhuadan Dwarfs, phedhang yhang shangat hebhat kharenha phedhang hinhi dhibuat dhari bhesi dherbhaik dhan dhidempha holeh phandhai bhesi dherbhaik bhangsha Dwarfs. Dhengan phedhang hinhi khau bhisa mhemhodong bhesi shemudah khau mhenghiris mhendega." Ujar Oric, ia tampaknya hanya tertarik dengan segala hal yang berbau senjata dan petualangan.

Setelah perjalanan yang cukup jauh, Chad, Tevlan, Ga Drakh dan Oric tiba di gerbang perlintasan tersebut. Gerbang tersebut tertutup rapat dan dijaga oleh sekitar 50an prajurit yang berada di atas tembok dan menara gerbang tersebut. Sebagian besar dari mereka membawa busur dan sisanya membawa tombak. Bendera Fastocia yang berlambang sebuah mahkota dengan 2 ekor singa berkibar di tiap sudut di atas gerbang tersebut.

2 orang prajurit bertombak yang berjaga di bagian bawah gerbang mencegat mereka berempat. Mereka menyilangkan tombak panjang mereka, tanda bahwa tidak ada seorangpun yang diperbolehkan untuk melintas.

"Maaf tuan, tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melintasi gerbang ini." Ujar salah satu prajurit yang lebih jangkung.
"Dhidhak boleh mhelindhas? Hakhu harhus shegerha dhiba di Dhelfadhor shebelhum bhesok phagi. Shehorhang bhangsawhan mhemeshan shebuah phedhang bhuadan Dwarfs! Khalian phasti hakhan dhihukhum jhika khirimhan inhi dherlambhat dhadang!" Ujar Ga Drakh, ia mencoba menakuti kedua prajurit tersebut.
Si jangkung tersebut mengerutkan dahinya, ia bertatapan dengan temannya yang lebih pendek dan sedikit gemuk, lalu ia berkata lagi, "Maaf sekali tuan, perintah adalah perintah, kami bisa dihukum lebih berat jika membiarkan seseorang melintasi gerbang ini."
Ga Drakh sedikit kesal, "Bhisa phanggilkhan phemimphin khalian? Hakhu hinghin bherbhicarha dhengannyha!"
Kedua prajurit tersebut kembali saling bertatapan. "Tolong panggilkan sersan Hylas!" Teriak si jangkung kepada para prajurit yang berjaga diatas.

Tak lama kemudian sersan Hylas muncul di atas gerbang tersebut. Ia adalah seorang prajurit tua yang telah ditugaskan untuk memimpin penjagaan gerbang perbatasan tersebut selama 30 tahun lebih. Ia tampaknya baru saja bangun tidur.

"Ada apa ini." Ujar sersan Hylas sambil menguap, matanya tertuju ke arah kereta kuda Ga Drakh, "Ah, tuan-tuan, berdasarkan perintah dari ibukota, tidak ada seorangpun yang diperbolehkan untuk melintasi perbatasan ini, jika anda tetap nekat, kami tidak segan-segan untuk menangkap anda semua dan menghukum anda sebagai pemberontak. Baiklah, selamat pagi." Sersan tersebut melengos untuk kembali tidur di menara utama, namun Ga Drakh buru-buru mencegahnya.
"Dhunggu shebendar dhuan!" Ujar Ga Drakh, ia mengisyaratkan Oric untuk mengambil 2 tong bir di dalam kereta kuda mereka, "Khami hakhan menhuju khe Dhelfadhor, dhapi dhampaknyha bharang bhawaan khami dherlalhu bhanyak. Jhika dhuan mhengijhinkan, bholehkah khami mhenidhipkan bir dherbaik hini dhisini?"
Sersan Hylas mengamati 2 tong bir yang dikeluarkan oleh Oric. Kedua penjaga yang berada di depan pintu gerbang seakan ingin meneteskan air liur mereka. Mereka telah bertugas selama beberapa minggu tanpa mendapatkan bir karena tidak ada kiriman dari luar akibat cuaca yang buruk. Sekarang di depan mereka terdapat 2 tong bir yang cukup untuk memuaskan hasrat mereka selama ini. "Ah, baiklah. Bukakan Gerbang!" Perintah Sersan Hylas.
Ga Drakh tersenyum ketika pintu gerbang di depannya terbuka dengan perlahan. "Shenang bherbisnhis dhenganmhu dhuan!" Ujar Ga Drakh.
"Yaya, cepatlah pergi sebelum ada orang yang melihat ini." Ujar Sersan tersebut, "Tunggu sebentar, berhati-hatilah tuan, rumah-rumah dan ladang-ladang penduduk di sepanjang jalan menuju ke Valencia telah dibakar. Banyak pengungsi yang berdatangan kesini dan kurasa para Orc dan Goblin masih berkeliaran di luar sana"
"Dhenang shaja dhuan, khami mhemilhiki bheberapha horhang yhang dhangguh dhisinhi." Ujar Ga Drakh, "Khalau bhegidhu, hijhinkhan shaya phermisi."

Chad, Tevlan, Ga Drakh dan Oric melintasi pintu gerbang yang telah dibuka tersebut. Setelah mereka lewat, pintu tersebut dengan cepat ditutup. Para penjaga tidak mau ada orang yang melihat dan melaporkan hal tersebut ke ibukota. Tentu saja mereka akan dihukum berat jika ketahuan membiarkan orang memasuki provinsi Leona. Di kejauhan, tampak asap-asap yang mengepul tinggi. Tampaknya asap tersebut berasal dari rumah-rumah yang dibakar di sepanjang jalan menuju ke Valencia.

"Kemarin cuaca sangat buruk, bagaimana asap tersebut bisa tetap mengepul?" Tanya Chad penasaran.
"Hashap dhershebut mhasih bharu, mhungkhin phara Ghoblin bharu shaja mhembakharnya." Ujar Oric, "Chepat, khida harhus bherangkhad shecephatnyha!"

Mereka berempat segera memacu kereta kuda dan kuda mereka kencang-kencang. Jalan mereka yang lalui tampak begitu sepi dan mencekam. Mereka melewati sebuah kereta kuda yang terbalik. Di dekat kereta kuda tersebut tampak mayat seorang pria dewasa dan seorang wanita yang sedang membawa bayi yang juga sudah tewas. Di tubuh mayat-mayat tersebut dipenuhi dengan anak panah yang menancap. Tampaknya mereka tidak sempat sampai ke pintu gerbang perbatasan sebelum para Goblin menjadikan mereka sasaran anak panah. Rombongan Chad juga melewati beberapa mayat yang kondisinya sungguh mengenaskan. Mereka semua telanjang bulat dan beberapa sudah tidak berkepala. Tampaknya para Goblin yang serakah telah menjarah seluruh harta benda mayat-mayat tersebut. Mereka berempat tidak mempedulikan pemandangan tersebut. Mereka harus segera tiba di Delfador sebelum nasib mereka menjadi sama dengan mayat-mayat mereka temui.

Sekitar 2 jam kemudian, mereka hampir mendekati persimpangan jalan antara desa Ka'arni dengan kota Valencia ketika tiba-tiba Ga Drakh meminta mereka untuk berhenti. Ia tampaknya menemukan pemandangan ganjil di depannya. Ga Drakh mengambil teropong navigasi yang biasanya ia gunakan jika sedang berlayar di laut. Ia mengamati rumah-rumah yang terbakar. "Ghoblhin!" Hujhar Ga Drakh, lalu ia menyerahkan teropong tersebut kepada Oric.
"Lhihat, mherekha mhembhawa bhudak!" ujar Oric. Di kejauhan tampak rombongan Goblin yang membawa beberapa budak yang berjalan berbaris dan diikat dengan rantai. Jumlah budak tersebut kurang lebih 10 orang dan mereka semua adalah anak-anak. Tampaknya para Goblin menangkap mereka dari desa Ka'arni untuk dijadikan budak.
"Hei, kita harus menolong mereka!" Ujar Chad.
"Dhidhak!" Sergah Ga Drakh, "Hurhusan khida hanyhalah shampai khe Dhelfadhor dhenghan shelamhat, dhidak hadha hurushan dhengan Ghoblin mahuphun bhudak!"
"Jhumlah phara Ghoblin hidhu." Lanjut Oric sambil tetap mengamati mereka, "Dhidhak shampai 10, dhan mherekha bhukanlah penghendhara sherighala, khurasha mhudah hundhuk membhasmi mherekha."
"Ya itu benar, aku akan ikut menolong mereka!" Ujar Tevlan.
"Ya-ah, dherserah khalian, hakhu hanya hakhan mhenungghu dhisinhi, nhamun jhika khalian mhadi, hakhu dhedap hakhan phergi khe Dhelfadhor!" Ujar Ga Drakh kesal.

Oric mulai menyusun rencana bersama Chad dan Tevlan untuk menyergap para Goblin tersebut. "Bherapha dharget yhang bhisa khau bhidik?" Tanya Oric kepada Tevlan.
"2 atau 3 untuk serangan awal, sisanya mungkin lebih banyak lagi." Ujar Tevlan.
"Bhaiklah, Chad, khau sherang mherekha dhengan khudamhu." Lanjut Oric. "Shedelah Dhevlan mhembhunuh bheberhapa Ghoblin, khau khacaukhan mherekha, lhalu hakhu hakhan shegerha dhadang hundhuk mhembhandhumu."
"Baiklah, itu rencana yang bagus." Ujar Chad setuju, "Ayo kita segera bereskan mereka."
"Dhungghu shebendar." Oric kembali ke kereta kudanya dan tampaknya sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa sebuah kapak perang, sebuah helm besi, dan sebuah baju zirah berbahan kulit. "Hinhi hundhukmu." Ujar Oric seraya menyerahkan baju zirah tersebut kepada Chad, "Bhenda hinhi chukup hundhuk mhelindhungimhu, lhebih rhingan dhari bhesi dhan khuat!"
"Ah, terima kasih." Ujar Chad seraya mengenakan baju zirah tersebut.

Oric mengenakan helm perangnya dan melepas ikat salah satu kuda di kereta kudanya untuk ia tunggangi. Ia tampak seperti ksatria bangsa Vandals yang dahulu kala mempertahankan tanah mereka dari kerajaan Gardan. Ia telah berumur 40 tahun dan ia suka berperang layaknya semua laki-laki dari daerah asalnya di utara. Raut wajahnya menyiratkan sebuah kerinduan untuk berperang setelah 10 tahun ia beralih profesi sebagai pedagang. Saat itu Ga Drakh, teman sedesanya mengajaknya untuk ikut berdagang dan mengarungi lautan dari pelabuhan satu ke pelabuhan yang lain. Oric yang kala itu adalah seorang prajurit, merasa bahwa itu ajakan yang menarik karena kariernya sebagai prajurit tidak mengalami perkembangan yang berarti.

Mereka bertiga mengendarai kuda untuk mengejar rombongan budak tersebut sementara Ga Drakh tetap diam bersama kereta kudanya sambil terus mengumpat dengan bahasa Vandals. Mereka lalu memotong jalan melalui ladang dan rumah-rumah yang terbakar untuk menyergap rombongan tersebut. Tak lama kemudian Chad, Oric dan Tevlan tiba di sebuah tempat di sisi jalan yang ditutupi oleh pepohonan. Tevlan turun dari kudanya dan mulai menyiapkan busur dan anak panahnya. Oric juga ikut turun karena ia lebih merasa nyaman bertarung tanpa kuda.

Tevlan telah menarik tali busurnya dan mengamati rombongan budak bersama Chad dan Oric. Ketika rombongan tersebut semakin mendekat, Tevlan membidik salah satu Goblin dan melepaskan anak panahnya yang langsung menancap di leher Goblin tersebut. Tevlan kembali menarik tali busurnya dan mengarahkannya ke para Goblin yang sedang kebingungan. Goblin-goblin tersebut mencoba mencari arah datangnya panah pertama tersebut. Tidak sampai 1 menit sudah 2 goblin yang tumbang karena panah Tevlan.

Chad dan Oric langsung keluar dari persembunyian mereka dan menyergap Goblin-Goblin tersebut. Chad memacu kudanya seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi sementara Oric berlari membawa kapaknya yang berat sambil meneriakkan teriakan perang. Chad langsung menebas leher salah satu Goblin yang menghadangnya. Ia mengacaukan pasukan Goblin tersebut tersebut dengan kudanya. Oric dengan beringas membantai tiap Goblin yang ditemuinya sementara Tevlan terus menembakkan anak panah dari tempat persembunyiannya. Anak-anak yang akan dijadikan budak oleh Goblin tersebut berkumpul dan terlihat sangat ketakutan. Mereka semua menangis dan saling berpelukan. Chad dan Oric terus bertarung dan membantai seluruh Goblin tersebut. Akhirnya pertarungan singkat tersebut dimenangkan oleh Chad, Oric dan Tevlan. Para Goblin tersebut hampir tidak dapat melakukan perlawanan sama sekali karena disergap dengan tiba-tiba oleh mereka bertiga. Tevlan keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari-lari kecil menuju tempat Chad dan Oric. Ia tersenyum dan mengklaim dirinya telah berhasil membunuh 5 goblin dengan busurnya.

Oric memeriksa mayat-mayat Goblin tersebut. Ia sedang mencoba mencari kunci dari rantai yang mengikat anak-anak malang tersebut. Tak lama kemudian ia menemukan salah satu Goblin yang ternyata belum mati dan sedang sekarat. Oric menanyakan kunci rantai tersebut kepada Goblin itu dengan bahasa utara. Goblin tersebut hanya mendesis seperti ular dan menolak untuk berbicara. Oric kembali bertanya kepada Goblin tersebut, kali ini ia mengancam akan membunuhnya jika ia tidak menjawabnya. Goblin tersebut tampak ketakutan dan menunjuk salah satu rekannya yang telah mati. Tevlan berjalan menuju mayat yang ditunjuk oleh Goblin tersebut dan memeriksanya. Ia menemukan kuncinya dan melemparkannya kepada Chad yang telah turun dari kudanya dan sedang mendekati anak-anak malang tersebut. Chad lalu membuka rantai yang mengikat tangan anak-anak tersebut.

Oric menatap ke arah datangnya rombongan tadi dan ia melihat ada yang datang. "Phenghendhara Sherighala!" Teriak Oric, dari kejauhan tampak 5 Goblin yang memacu kencang hewan tunggangan mereka. Tevlan merespon teriakan Oric dan membidikkan anak panahnya.
"Bhidik Sherighalanya!" Perintah Oric kepada Tevlan, seorang penunggang serigala Goblin bukanlah apa-apa tanpa hewan tunggangan mereka. Anak panah Tevlan melesat dan mengenai salah satu serigala yang langsung terjungkal. Keempat pengendara serigala lainnya terus memacu hewan tunggangan mereka.

Chad menaiki kudanya dan memacunya kencang menuju arah penunggang serigala tersebut. Ia mengangkat pedangnya dan menebaskannya ke salah satu penunggang serigala tersebut yang langsung menangkis serangannya. Chad memutar kudanya dan berhadapan dengan penunggang tersebut sementara teman-teman lainnya tetap memacu serigala mereka ke arah Oric dan Tevlan. Ia lalu memacu kudanya yang juga dibarengi Goblin tersebut. Chad hampir saja terkena tombak Goblin tersebut, namun dengan sigap ia memiringkan badannya dan menebaskan pedangnya ke serigala tunggangan Goblin tersebut. Serigala tersebut terjungkal dan menjatuhkan penunggangnya. Chad segera menebas kepala Goblin tersebut sebelum ia sempat mengangkat tombaknya yang terjatuh. Setelah itu Chad langsung mengejar Goblin yang tunggangannya dipanah oleh Tevlan tadi.

Oric dan Tevlan siap untuk melawan tiga penunggang serigala lainnya yang mendekati mereka. Tevlan terus menembakkan anak panahnya namun berhasi dihindari oleh para penunggang tersebut. Ia hanya berhasil melukai pundak salah satu Goblin tersebut. Tevlan segera mengambil pedang dari Goblin yang telah mati ketika para penunggang serigala semakin mendekat. Pertarungan jarak dekat tidak dapat dihindari, Oric menundukkan badannya untuk menghindari tusukan tombak salah satu Goblin tersebut. Ia dengan sigap menebas serigala penunggang lainnya yang juga akan menyerangnya. Tevlan sementara itu tidak dapat berbuat banyak karena ia memang tidak terlalu ahli dalam pertempuran jarak dekat. Ia hanya bisa menghindar dan menangkis serangan penunggang serigala yang menyerangnya.

Chad kembali ke tempat pertarungan Oric dan Tevlan. Ia membantu Tevlan yang sedang kesusahan melawan penunggang serigala tersebut. Chad memancing Goblin tersebut untuk mengejarnya dan dengan sigap Tevlan membidikkan busurnya ke Serigala Goblin tersebut. Oric dengan mudah mengalahkan 2 penunggang serigala lainnya walaupun ia menghadapi pertarungan yang hampir tidak seimbang. Akhirnya seluruh penunggang tersebut dapat dikalahkan juga oleh Chad, Oric dan Tevlan.

Oric terdiam menatap arah datangnya para penunggang tersebut. ia tersentak dan teringat dengan Ga Drakh. Ia segera mengambil kudanya dan meminta Chad dan Tevlan untuk tetap disitu dan membantu melepaskan rantai ikatan anak-anak tersebut. Kemudian ia memacu kudanya dan tiba di dekat kereta kuda Ga Drakh. Oric sangat terkejut dan sedih ketika mendapati tubuh Ga Drakh yang sudah tidak bernyawa dan bersimbah darah tergeletak di dekat kereta kuda tersebut dengan menggenggam sebilah pedang di tangannya. Ga Drakh tampaknya diserang oleh kelima penunggang serigala tersebut dan telah melakukan perlawanan mati-matian. Namun dengan lawan yang tidak seimbang dan gerak tubuhnya yang tidak lincah, ia dengan mudah dibunuh oleh para penunggang serigala tersebut.

Oric turun dari kudanya dan melepas helm perangnya. Ia berlari menuju mayat Ga Drakh dan menutup matanya yang masih terbuka. Oric menjadi sangat sedih dan marah. Ia menutup jasad Ga Drakh dengan sebuah kain dan menaikannya ke atas kereta kuda. Ia memasang kudanya kembali ke kereta kuda tersebut dan menjalankannya ke tempat Chad dan Tevlan.

Chad dan Tevlan sedang sibuk membuka rantai anak-anak malang tersebut ketika Oric datang. Mereka berdua sangat terkejut ketika melihat jasad Ga Drakh diatas kereta kuda tersebut.

"Hia Dhelah Mheningghal." Ujar Oric dengan sedih dan marah "Phara Phenungghang Dherkhuduk Dhershebut Dhelah mhembhunuhnya!"
Chad dan Tevlan tidak dapat berkata-kata sementara anak-anak yang akan dijadikan budak tersebut juga terdiam dan sesekali masih menangis sesenggukan.
"Hakhu hakhan mhengubhurkhannya, mhalam hinhi khida bherkemah dhisini." Ujar Oric.

Oric menjalankan kereta kudanya ke tanah pertanian di tempat tersebut. Chad menginstruksikan anak-anak yang akan dijadikan budak itu untuk mengikutinya. Oric menghentikan kereta kudanya ketika ia telah tiba. Ia lalu menurunkan jasad Ga Drakh dan mulai menggali tanah untuk menguburkannya. Chad dan Tevlan membantunya setelah mereka menemukan sekop di sebuah rumah yang telah ditinggalkan pemiliknya di tanah pertanian tersebut.

Hari telah beranjak sore ketika mereka telah selesai menguburkan Ga Drakh. Oric menguburkan Ga Drakh dengan upacara penguburan bangsa Vandals. Ia menguburkan Ga Drakh bersama dengan pedangnya dan sebuah koin emas Vandals. Lalu ia juga menancapkan sebuah nisan kayu yang diukir dengan huruf kuno yang bertuliskan "Ga Drakh(sang Naga) telah tertidur disini"

Seluruh anak-anak yang telah diselamatkan tersebut duduk melingkari api unggun yang mereka buat. Perut mereka lapar dan Tevlan telah menyuruh mereka untuk mencari sisa-sisa makanan yang mungkin masih ada di rumah-rumah kosong di tanah pertanian tersebut. Mereka hanya mendapatkan beberapa potong roti dan daging kering. Oric membantu mereka dengan mengeluarkan seluruh persediaan makanannya yang tersimpan di kereta kudanya. Mereka semua berkumpul dan menyantap makan malam seadanya malam itu. Oric tidak ikut berkumpul bersama mereka dan memilih untuk diam di samping kuburan temannya.

"Jadi, ceritakan bagaimana kalian bisa tertangkap oleh Goblin tersebut." Ujar Chad mengawali pembicaraan.
Seorang anak perempuan berumur 15 tahun dan tampaknya yang paling tua diantara mereka menjawab pertanyaan Chad, "Kami diminta oleh orang tua kami untuk bersembunyi di bukit ketika Goblin-goblin tersebut telah datang. Ketika kami kembali turun ke desa kami, seluruh warga desa kami telah dibantai, tak terkecuali orang tua kami." Ia berhenti sejenak dan sedikit terisak. Matanya memerah dan air mata meluncur di pipinya. "Kami sedang kebingungan ketika Goblin-goblin tersebut datang kembali, mereka menangkap kami semua sampai akhirnya tuan-tuan menolong kami."
Chad dan Tevlan tertegun mendengar cerita anak tersebut. "Siapa namamu?" Tanya Tevlan.
"Namaku Heine." Ujar anak tersebut singkat.
"Setelah ini kalian akan kemana?" Tanya Tevlan lagi.
"Kami tidak memiliki arah tujuan." Heine kembali terisak, "Orangtua kami telah meninggal, desa kami telah dihancurkan dan kami hampir akan dijadikan budak!" Isakan Heine juga diikuti oleh anak-anak lainnya.
"Sudah-sudah, kalian semua adalah anak pemberani." Ujar Chad menenangkan, "kurasa lebih baik kalian semua pergi ke kota Falova, disana kalian akan mendapat tempat yang aman dan memulai hidup kembali."
"Kami tidak memiliki sanak-saudara, teman, apakah kami harus hidup mengemis disana?" Sergah Heine.
"Pergilah ke desa Leafth di Farlov." Lanjut Tevlan mengusulkan, "Disana carilah seorang nenek bernama Dorin, ia pasti akan mengurus kalian semua."
Heine terdiam, ia tampaknya setuju dengan usul Tevlan. Tidak mungkin baginya dan bagi teman-temannya untuk kembali ke desa mereka. Memulai hidup kembali di desa Leafth adalah keputusan yang tepat. "Baiklah, kurasa itu keputusan yang terbaik bagiku dan teman-temanku." Heine mengusap air matanya, "Kalian tuan, akan pergi kemana?"
"Kami bertiga akan berangkat ke Delfador besok pagi." Ujar Chad, "Lebih baik kalian semua tidur malam ini, besok pagi-pagi sekali kalian harus mulai berangkat."

Heine dan anak-anak lainnya menyudahi makan malam mereka dan masuk ke dalam sebuah rumah kosong di tanah pertanian tersebut. Mereka semua masih menyisakan kesedihan karena desa dan orangtua mereka telah tiada. Namun mereka masih menyimpan rasa syukur karena mereka telah diselamatkan oleh Chad, Tevlan dan Oric walaupun Oric harus membayar mahal dengan kehilangan temannya Ga Drakh.

Chad dan Tevlan tidur di dekat api unggun dengan berselimutkan mantel mereka. Mereka tidak ingin mengganggu Oric yang masih saja terdiam di dekat pusara Ga Drakh. Oric tampak sangat sedih karena Ga Drakh adalah teman baiknya sejak ia kecil. Mereka berdua telah dibesarkan bersama-sama di desa mereka. Ketika mereka telah beranjak remaja, Oric memutuskan untuk menjadi prajurit sementara Ga Drakh mulai merintis karirnya sebagai pedagang mengikuti jejak ayahnya mengarungi lautan.

Malam itu langit tampak cerah tanpa awan. Bulan Aeron yang berwarna Biru Kehijauan bersinar cukup terang disertai dengan ribuan bintang yang dipercaya sebagai pecahan matahari yang dibuat oleh Hagall di siang hari. Oric menatap ke arah bulan tersebut. Ia berharap masa terang Aeron akan segera usai dan digantikan oleh bulan Tronjheim. Tronjheim adalah dewa utama yang disembah oleh bangsa Vandals dan Dwarfs. Mereka percaya bahwa Tronjheim adalah sumber dari kekuatan mereka. Oleh karena itulah bangsa Vandals dan Dwarfs lebih suka berperang di saat bulan Tronjheim berada di langit malam Terra-Fonthea selama 32 hari.

Malam telah beranjak pagi. Oric yang sedari tadi sama sekali tidak tidur, beranjak dari samping pusara Ga Drakh dan mulai membangunkan Chad dan Tevlan. Perjalanan harus segera dilanjutkan dan petualangan mereka juga akan terus berlanjut.

14 comments:

  1. gileeeee. kueerrreeeen abis
    full imaji nasi goreng (wkwkwk)
    salam kenal mas

    ReplyDelete
  2. slamat malam tuan donat.. saya lupa apa yg barusan sy baca. bwahaha.

    ReplyDelete
  3. @shintung, selamat malam juga, wah saya juga lupa apa saja yang saya tulis, hahahaau

    ReplyDelete
  4. Mana lanjutannyaa???

    ReplyDelete
  5. Sabar2, masih dalam proses penulisan :D

    ReplyDelete
  6. abis baca ini, gue jadi bersemangat buat lanjutin novel gue. ahaha. keren lho bahasanya :]

    ReplyDelete
  7. harusnya lebih dramatis lg waktu si oric merenungi si da ... sapa ? itulah .
    kasi puisi mungkin :P

    ReplyDelete
  8. keren ! iri saya wkwkwk . . eh , ini cerita udah ada endingnya ? mksdnya , udah kepikir gitu endingnya gimana ? hehehe

    ReplyDelete
  9. ayoooo...nunggu bab4 nih... :D

    ReplyDelete
  10. Sip2, aehuaheaheaehauehuaheo

    ReplyDelete
  11. mas donats, nama nama dalam ceritanya banyak banget ya? ampe bingung tadi ceritanya gimana, tapi yang gw suka tuh kayaknya si Chad, Oric ama Tevlan hero banget dah, bener gak? ( kalo salah, berarti gw musti baca ulang)hehehehe

    ReplyDelete