Bab 4: Guinglaint Manor

Chad, Tevlan dan Oric melanjutkan perjalanan mereka di pagi itu. Heine dan anak-anak lainnya telah berangkat menuju provinsi Farlov. Disana mereka akan tinggal di desa Leafth sesuai dengan saran Tevlan. Sebelum mereka berpisah dengan Chad dan kedua temannya, mereka mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa mereka. Chad, Tevlan dan Oric memacu kereta dan kuda mereka menuju ke arah utara. Sebelum mereka tiba di Delfador mereka harus melewati kota Valencia.

Kota Valencia telah diserbu dan dibakar oleh pasukan Orc dan Goblin. Mereka terus bergerak menuju kota tersebut setelah menjebol pintu gerbang di benteng hijau. Setelah 3 hari kota itu dikepung, akhirnya para Orc dan Goblin berhasil memasuki dan menghancurkan semua yang ada di dalamnya. Pasukan Fastocia yang hanya berjumlah kurang dari 500 orang tidak kuasa menahan pasukan barbar tersebut. Mereka berjuang mati-matian dari dalam tembok kota untuk mencegah para Orc dan Goblin menaiki tembok kota dan menjebol pintu gerbang kota tersebut. Walaupun pertahanan mereka dapat dihancurkan dengan mudah, setidaknya mereka dapat melindungi kota hingga penduduk kota terakhir dapat mengungsi menuju Delfador.

Rombongan pengungsi menyemut di jalan antara kota Delfador dan Valencia. Mereka sebagian menaiki kuda dan kereta kuda, namun banyak juga yang harus berjalan kaki. Pria, wanita dan anak-anak harus merelakan rumah dan harta benda mereka untuk menyelamatkan diri dari serangan Orc dan Goblin. Sepanjang perjalanan wajah mereka tampak sedih dan kusut. Terdengan tangisan anak-anak dan bayi yang tidak biasa melakukan perjalanan yang melelahkan tersebut. Beberapa prajurit Fastocia menjaga dan memandu mereka menuju Delfador. Raut muka para prajurit itu tidak lebih baik daripada para pengungsi tersebut.

Chad, Tevlan dan Oric tiba di pintu gerbang Valencia sebelum tengah hari. Mereka mendapati pintu gerbang tersebut telah rusak dijebol oleh alat pendobrak pintu yang dibuat oleh para Orc dari kayu-kayu besar yang diambil dari hutan Grat. Di dalam kota puing-puing reruntuhan bangunan masih menyisakan sedikit asap akibat pembakaran yang dilakukan oleh bangsa barbar tersebut. Abu dan warna hitam reruntuhan mendominasi di seluruh penjuru kota tersebut, tertutupi dengan warna putih salju yang tampak kotor.

Puluhan prajurit dan ratusan pengungsi yang kembali ke kota Valencia tampak sedang memeriksa puing-puing bangunan. Mereka ditugaskan untuk mencari mayat-mayat prajurit Fastocia untuk segera dikuburkan. Beberapa dari mereka tampak sedih ketika mereka menemukan jasad teman-temannya telah terbujur kaku dengan tubuh menghitam karena terjebak di dalam kebakaran. Namun tak sedikit pula yang hanya menampakkan raut muka datar, seolah-olah mereka tampak begitu tegar dengan bencana yang terjadi tersebut. Mereka semua terus mengais-ngais diantara reruntuhan untuk sekiranya menemukan jasad lainnya di bawah puing-puing bangunan dan salju yang menghitam karena abu.

Seorang pria tua tampak menangis tersedu-sedu sementara istrinya meraung-raung kencang di sampingnya. Mereka berdua berada di depan bangunan rumah mereka yang telah menjadi abu. Di dalam rumah tersebut ternyata terdapat jasad anak perempuan mereka yang tidak sempat ikut mengungsi dan memilih untuk bersembunyi di bawah kasurnya ketika para Goblin mulai membakar rumahnya. Mereka berdua sangat menyesal karena tidak menyadari anak perempuannya tersebut menghilang di antara rombongan pengungsi dan ternyata kembali ke rumahnya hanya untuk mengambil boneka kesayangannya yang tertinggal. Ketika ia tiba di rumahnya, ia jatuh tertidur karena kelelahan dan menyadari rumahnya sedang terbakar ketika ia terbangun. Ia segera bersembunyi di bawah kasurnya sambil memeluk erat-erat bonekanya. Sayang sekali dia tidak dapat terselamatkan dari api yang terus mengamuk, ayah dan ibunya menemukan jasadnya yang menghitam sedang memeluk boneka kesayangannya.

Rombongan kuda Chad dan kedua temannya berjalan melewati puing-puing bangunan di sisi jalan kota. Di sepanjang jalan mereka hanya menemukan abu dan kesedihan penduduk kota. "Dhak hadha yhang dhersisha dhari khoda hinhi. Hanyha khesedhihan yhang mhereka dhinggalkhan." Ujar Oric meratapi nasib kota tersebut. Tevlan mengiyakan ratapan Oric, ia hanya terdiam dan terus menatap ke sekeliling dari atas kudanya.

Tak lama kemudian mereka telah tiba di pintu gerbang barat kota Valencia. Laju kuda mereka dihentikan oleh beberapa prajurit yang sedang bersiaga di atas jembatan kota Valencia. "Maaf tuan-tuan, bolehkah saya tahu darimana dan akan kemana rombongan tuan-tuan akan pergi? Ujar pemimpin dari prajurit yang menjaga pintu gerbang kota tersebut.
"Khamhi hadhalah rhombonghan phedaghang dhari khoda Fhalovha dhan hakhan phergi mhenujhu Dhelfadhor. Sheorhang dheman khami mheningghal khedika khami mhelawhan Ghoblin di phersimphangan jhalan mhenuju khesinhi." ujar Oric.
"Ah, kami turut berduka cita tuan. Maaf telah mengganggu perjalanan anda." Ujar prajurit tersebut seraya memerintahkan anak buahnya untuk membuka jalan untuk mereka.
"Bolehkah kami tahu kronologis dari serangan Orc di kota ini?" Tanya Chad sebelum mereka meninggalkan kota Valencia.
"Yah, dua hari yang lalu kota ini telah dikepung selama tiga hari. Para Orc tersebut berhasil menaiki tembok dan menjebol pintu gerbang kota. Kami yang berjumlah sangat sedikit tidak mampu membendung serangan mereka. Pasukan barbar tersebut membantai setiap prajurit dan warga kota yang mereka temui dan membumi-hanguskan kota ini." Prajurit tersebut menghela napas sejenak, "Penasihat kerajaan, tuan Cariandeldor mengadakan negosiasi dengan Arghol, pemimpin Orc dan Goblin tersebut, seorang penyihir hitam yang menunggangi seekor serigala putih raksasa. Aku ikut menjaga tuan Cariandeldor saat itu, tulang-tulangku serasa meleleh ketika melihat serigala putih tersebut. Tuan Cariandeldor dengan sangat terpaksa memberikan batu Orb yang selama beratus-ratus tahun dijaga oleh kerajaan, ini semua demi nasib kerajaan karena Arghol mengancam akan menyerang ibukota dan mengambil batu Orb dengan tangannya sendiri."
"Ah, jadi paman Cariandeldor harus bernegosiasi dengan Arghol." Pikir Chad, Cariandeldor adalah kakak dari mendiang ibunya, jadi ia memanggilnya dengan sebutan paman. Pikiran Chad sekarang tertuju kepada Arghol, mungkin penyihir hitam tersebut adalah orang yang selalu muncul dalam mimpi buruknya akhir-akhir ini, namun ia tidak yakin karena ia belum mendapat gambaran yang jelas dari sosok Arghol, dan apa maksud dari perkataan penyihir dalam mimpinya yang mengatakan sesuatu tentang membangkitkan kerajaan Gardan? Chad berusaha tidak memikirkan mimpi buruknya tersebut. Sekarang ia ingin tahu bagaimana nasib raja Gustave XII. Mengapa bukan beliau yang melakukan negosiasi dengan Arghol. "Mengapa bukan raja Gustave yang melakukan negosiasi?"
"Jadi anda belum tahu berita duka tersebut tuan? Mendiang raja Gustave XII telah meninggal dunia akibat luka dalam yang hebat, para tabib kerajaan mengatakan bahwa raja telah diserang oleh ilmu sihir ketika ia memimpin perang di padang hijau. Pemakaman telah dilakukan dengan sederhana karena negara masih berada dalam kondisi yang kacau balau. Seluruh penduduk kota Delfador menghadiri pemakaman raja. Calon penerus raja, pangeran Efran masih berumur 14 tahun, jadi untuk sementara kepemimpinan kerajaan diwakilkan oleh tuan Cariandeldor. Kami yakin beliau tetap loyal kepada kerajaan dan tidak akan mendeklarasikan diri sebagai raja dan membentuk dinasti baru."
Chad mengiyakan pendapat prajurit tersebut dalam hati. Ia mengenal baik sosok pamannya yang telah 50 tahun lebih mengabdi kepada kerajaan.

Tak lama kemudian rombongan Chad meminta diri untuk meneruskan perjalanan ke kota Delfador. Mereka melintasi jembatan Valencia dan memacu kuda mereka. Di luar kota Valencia, mereka melihat beberapa orang yang sedang menggali liang kuburan tepat di pinggir sungai Leona.

Tanpa mengurangi rasa hormat, belasan mayat dibawa menggunakan gerobak yang berulang kali keluar masuk kota Valencia. Mayat-mayat tersebut ditumpuk di atas tanah bersalju, menunggu giliran untuk segera dikuburkan. Para penggali kubur harus menguburkan mayat-mayat tersebut sebelum wabah penyakit menjangkiti mereka yang masih hidup. Beberapa pendeta kerajaan melakukan upacara penguburan di sisi liang kuburan yang telah diisi dengan beberapa tubuh. Biasanya sebuah liang kuburan yang telah digali diisi oleh 10 mayat.

"Para Orc tersebut telah memasuki kerajaan kita, membumi-hanguskan kota kita dan membantai orang-orang kita, hanya karena sebuah batu hitam bundar yang menurutku tidak lebih berharga dari sepiring keju panggang dan segelas susu kambing hangat." Keluh salah seorang penggali kuburan tersebut.
"Jangan banyak mengeluh Tod, cepat selesaikan tugas kita hari ini karena sepiring keju panggang dan segelas susu kambing hangat telah menunggu di rumahmu." Ujar salah satu temannya yang terus menggali tanah dengan sekopnya.
"Kurasa dengan banyaknya mayat yang harus kita kuburkan." Tod berhenti sejenak dari kegiatan menggali tanah dan menyeka keringatnya. "Aku tidak bernafsu lagi untuk menyantap makanan yang sangat kuimpikan itu."
Teman Tod tertawa dan diikuti oleh tawa penggali kuburan lainnya. Mereka semua ternyata berasal dari desa Flint di dekat kota Valencia dan dibayar beberapa koin perunggu untuk menguburkan mayat-mayat tersebut. Walaupun upah yang mereka dapatkan sangatlah kecil, namun mereka tetap menjalankan pekerjaan tersebut, sebagian didasari oleh rasa kemanusiaan untuk menguburkan mayat-mayat yang juga merupakan penduduk kerajaan Fastocia sementara yang lain terpaksa melakukannya karena tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan selama musim dingin.

Chad, Tevlan dan Oric memacu kereta dan kuda mereka di jalan antara Valencia dengan Delfador. Sesekali mereka berpapasan dengan prajurit atau pengungsi yang memutuskan untuk kembali ke kota Valencia. Banyak juga beberapa pengungsi yang memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah pertanian dan rumah-rumah penduduk di sekitar jalan tersebut.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kereta dan kuda, mereka bertiga akhirnya hampir tiba di ibukota Delfador. Di kejauhan mereka melihat dinding kota dan menara-menara yang menjulang tinggi di dalam kota tersebut. Semakin rombongan mereka mendekat, semakin banyak tenda-tenda pengungsi yang terlihat di sisi-sisi jalan tersebut.

Wajah-wajah para pengungsi tersebut tampak kelelahan. Beberapa dari mereka hanya duduk di dekat perapian atau di dalam tenda mereka, meratapi nasib rumahnya di Valencia yang pasti telah menjadi abu. Yang lain terutama orang dewasa mencoba pergi ke ibukota untuk membeli persediaan makanan dan kayu bakar. Dari dalam beberapa tenda, dapat terdengar suara bising orang-orang yang bercakap-cakap. Kebanyakan dari mereka mengobrol tentang invasi para Orc dengan nada marah dan sedih. Tak sedikit dari mereka yang mengutuk serangan Orc yang telah membakar kota mereka. Anak-anak hanya terdiam mendengar obrolan orang tua mereka. Banyak juga dari mereka yang tertidur karena kelelahan sementara yang lain menangis karena kelaparan atau kelelahan.

Chad memandangi tenda-tenda tersebut. Dalam hati ia sangat marah terhadap para Orc dan Goblin yang telah menyebabkan nyawa ribuan orang menghilang sementara puluhan ribu lainnya harus kehilangan rumah dan sanak saudara mereka. Ia bersumpah dalam hati untuk membalas perbuatan Orc tersebut bagaimanapun cara yang bisa ia lakukan.

Rombongan kereta dan kuda mereka telah tiba di gerbang masuk kota Delfador. Banyak orang yang keluar masuk kota melalui gerbang utama tersebut. Sebagian besar dari mereka adalah pengungsi yang akan membeli perbekalan di dalam kota. Beberapa prajurit bersiaga di depan gerbang tersebut sementara beberapa pemanah juga ikut mengawasi dari atas dinding kota.

Mereka bertiga memasuki kota dan langsung terjebak dalam keramaian. Ribuan orang berseliweran di jalan utama kota tersebut. Sebagian besar adalah para pengungsi yang membawa bungkusan besar berisi perbekalan dan berjalan atau memakai kereta dan kuda untuk kembali ke tenda-tenda mereka. Beberapa penduduk kota Delfador melongok keramaian tersebut dari jendela rumah mereka. Banyak dari mereka dengan kesadaran tinggi membantu para pengungsi tersebut dengan menyumbangkan sedikit makanan bagi pengungsi yang tidak mampu membeli makanan dan terpaksa mengemis dari pintu ke pintu.

Rombongan kereta dan kuda Chad meneruskan perjalanan di dalam kota menuju Guinglaint Manor, tempat dimana Chad tinggal dan dibesarkan bersama saudara-saudaranya. Perjalanan mereka sedikit terhambat dengan adanya kemacetan di jalan tersebut, namun 30 menit kemudian mereka akhirnya tiba di depan pintu masuk Guinglaint Manor.

Guinglaint Manor terletak di bagian barat kota, bersama rumah-rumah milik bangsawan Fastocia lainnya. Rumah tersebut cukup besar dan mewah dengan sekitar 20 kamar dan halaman yang luas. Sekitar 10 orang pelayan bekerja di rumah tersebut.

Chad turun dari kudanya dan mengetuk pintu gerbang rumah tersebut. Lubang intip yang berada di tengah pintu tersebut terbuka. Tampak mata seorang pria tua yang menatap tajam kehadiran Chad dan kedua temannya.

"Siapa?" Ujar pria tua tersebut.
"Thurg, ini aku, Chad!" Ujar Chad.
Thurg, nama pria tua itu menajamkan matanya. Ia telah berumur 70 tahun dan matanya tidak sekabur ketika ia muda dulu. Seolah tidak percaya, ia berkata "Tuan Chad! Syukurlah Tuan masih hidup!"
Thurg membuka pintu gerbang dan meminta mereka segera masuk. "Masuk tuan-tuan." Ujarnya.

Chad, Tevlan dan Oric memasuki halaman Guinglaint Manor. Thurg yang sangat gembira dengan kehadiran Chad menggenggam tangan kanan Chad dengan kedua tangannya. "Syukurlah, masih ada ksatria lain dari klan Guinglaint yang masih hidup selain tuan Brad!"
"Maksudmu, Brad selamat?" Chad berkata dengan setengah tidak percaya.
"Iya tuan, tuan Brad telah selamat bersama prajurit-prajurit lainnya." Thurg melepaskan genggaman tangannya, "Sekarang ia sedang berada di istana untuk memenuhi panggilan tuan Cariandeldor"
"Aku ingin menemuinya."
"Saya sarankan tuan untuk beristirahat terlebih dahulu dan bertemu dengan nona Helena, istri kakak tuan." Thurg mencoba meyakinkan Chad.

Seorang wanita keluar dari kamarnya di lantai dua dan memandang kehadiran Chad dan kedua temannya dari atas balkon kamarnya. Wanita tersebut sangat cantik dan rupawan, rambutnya yang pirang berkilau diterpa sinar matahari siang musim dingin. Ia adalah Helena, istri dari Glenn, putra tertua Richard Guinglaint. Helena telah menunggu kehadiran suaminya sejak ia pergi untuk berperang. Ia selalu berdiri menunggu di balkon kamarnya, berharap Glenn membuka pintu gerbang Guinglaint Manor dan menemuinya. Namun hingga 1 minggu lebih setelah perang usai, ia masih belum mendapatkan kabar dari suaminya tersebut. Bahkan Brad yang beberapa hari lalu berhasil selamat bersama prajurit-prajurit lainnya tidak dapat memberikan kabar yang pasti tentang Glenn.

Chad menyetujui saran Thurg. Ia mengajak Tevlan dan Oric untuk memasuki Guinglaint Manor sementara kereta dan kuda mereka dibawa oleh para pelayan menuju istal kuda. Oric hampir saja lupa untuk mengambil barang yang akan ia kirim, ia segera mengambil pedang yang dibungkus oleh kain putih tersebut. Mereka bertiga kini berada di ruang utama Guinglaint Manor. Ruang tersebut dihiasi oleh pernak-pernik senjata yang diatur sedemikian rupa; Pedang, tombak dan perisai yang dipajang di dinding serta beberapa baju zirah ksatria yang dikenakan oleh patung-patung manekin lengkap dengan senjata mereka, disusun di setiap sisi ruang utama tersebut. Sebuah lukisan besar potret diri leluhur Chad, Edward Guinglaint terpampang di dinding dekat tangga ruang utama tersebut. Berdiri gagah dengan mengenakan baju zirah putih dengan emblem klan Guinglaint, tangan kirinya memeluk helm perang sementara tangan kanannya menggenggam gagang pedang yang ujung mata pedangnya menyentuh tanah.

Seorang pelayan wanita menuntun Tevlan dan Oric untuk menuju ke kamar yang telah disiapkan sementara Chad pergi menemui Helena. Ia menaiki tangga di ruang utama tersebut dan berjalan menuju kamar Helena. Ia mengetuk pintu kamar tersebut dan suara lembut Helena meminta Chad untuk masuk. Wanita tersebut masih berdiri di balkon rumahnya, memandang pemandangan hutan dan bukit-bukit kecil yang menyembunyikan desa Ka'arni nan jauh di balik sungai dinding-dinding kota Delfador. Chad berjalan ke arah balkon dan bersender di dekat jendela, ia berdiri terpaku dan menunggunya untuk memulai pembicaraan.

"Bagaimana kabarmu Chadolice?" Tanya Helena tanpa memalingkan muka dari pemandangan yang ia pandang.
"Aku baik-baik saja." Ujar Chad, "Bagaimana dengan dirimu?"
"Kami baik-baik saja."
"Kami?" Chad bingung dengan jawaban Helena.
"Ya, aku dan benih di dalam rahimku." Helena sekarang menatap Chad sambil mengelus perutnya.
"Selamat Helena!" Chad meraih dan mencium punggung tangan Helena.
Helena tampak tersenyum, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi murung. "Kau tahu bagaimana kabar kakakmu?" Tanyanya lirih.
"Maaf Helena, aku belum mendapatkan kabar darinya."
"Sama seperti Brad." Ujar Helena, "Mungkin aku harus merelakannya, kesedihan tidak baik bagiku dan bagi benih yang ia tanam di rahimku." Air mata tampak menggenang di kedua bola matanya yang indah, "Ini hadiah terakhir yang ia berikan padaku." Helena kembali mengelus perutnya.

Chad merasa bahwa kakak iparnya butuh waktu untuk sendiri. Ia segera meminta diri untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Chad berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar tersebut dengan nyaris tidak bersuara, ia tidak mau mengganggu kesedihan Helena. Chad segera turun ke lantai satu dan seorang pelayan wanita yang tadi menuntun Tevlan dan Oric telah menunggunya di bawah.

"Tuan, kamar dan baju ganti anda telah saya siapkan." Ujar pelayan tersebut, "Dan kedua teman tuan telah kami urus dengan baik."
"Ah, terima kasih La'arni. Tolong buat jamuan untuk mereka nanti malam" Ujar Chad.
"Baik tuan." Ujar pelayan tersebut seraya memohon diri untuk kembali ke bangsal pelayan.

Chad kemudian berjalan menuju kamarnya lewat koridor di dalam Manor tersebut. Oric keluar dari kamarnya ketika Chad lewat di depannya.
"Hakhu mhau phergi khe rhumah phembelhi bhenda hinhi." Ujar Oric menunjukkan pedang buatan Dwarfs yang dibungkus dengan kain putih, "Dhevlan jhuga hakhan hikhut bhersamhaku."
"Kau yakin tidak akan beristirahat terlebih dahulu?" Tanya Chad.
"Dhidak, dhidak pherlu."
"Kau tidak akan langsung kembali ke Falova bukan? Setidaknya menginaplah 1 malam saja, aku akan meminta para pelayan untuk menyiapkan jamuan untukmu dan Tevlan."
"Ya-ah, mhungkin hidhu bhukan hidhe yhang bhuruk." Oric berpikir sejenak, "Khami hakhan khembali shebelhum mhalam hari dhiba."
"Apakah kau tahu rumah pemesan pedang tersebut?"
"Ga-Drakh, mheninggalkhan shebuah shurat dhari phemesan bhenda hinhi, sheorhang bhangsawhan bhernamha Rodish."
"Ah, mungkin yang ia maksud adalah Fharkog Rodish! Rumahnya tidak jauh dari sini, kau bisa menemukannya dengan mudah, cari rumah yang memiliki papan nama Rodish di pintu masuknya." Lanjut Chad menjelaskan, "Kau yakin tidak perlu kuantar?"
"Dhidhak, dhidhak hushah, chukup hakhu dhan Dhevhlan shaja yhang phergi."
"Baiklah, aku ingin beristirahat dahulu. Jangan lupa untuk kembali sebelum malam tiba."

Tevlan keluar dari kamarnya dan ia telah siap untuk pergi bersama Oric. Mereka keluar dari Manor dan menyusuri kota Delfador dengan berjalan kaki. Chad masuk ke kamarnya dan mengganti pakaian dari Dorin dengan pakaian yang telah disiapkan pelayannya. Ia langsung berbaring di atas ranjangnya dan langsung tertidur karena ia cukup lelah dalam perjalanan dari Falova tersebut.

4 comments:

  1. bab 4 kurang seru nih, don. eh nat. eh donats.

    ReplyDelete
  2. lanjutin dong ampe tamat kan nanggung nich

    ReplyDelete